Libur Ramadhan dan ‘Idul Fitr 1436 H

Kepada

Ykh. Segenap orang tua / wali santri

Ponpes Ibnu Taimiyyah Sumpiuh

di Tempat

 

Assalamu’alaikum warahmatullah

Mengingat dekatnya ‘Idul Fitr 1436 H, maka kami beritahukan hal-hal berikut:

1. Penjemputan dan taushiyyah tanggal 5 Juli 2015 pukul 09.00 – selesai

2. Libur ramadhan dan ‘Idul Fitr 1436 H tanggal 6 – 26 Juli 2015

3. Santri diantar ke pondok tanggal 26 Juli 2015 sore

4. Santri mulai belajar tanggal 27 Juli 2015

 

Baca lebih lanjut

Audio Kajian Ilmiyyah Syaikh Ruzaiq Al Qurasyi 31 Mei – 1 Juni 2015

Alhamdulillah dengan nikmat dan taufiq dari Allah ‘Azza wa Jalla, Kajian Ilmiyyah Ulama Arab Saudi di Pondok Pesantren Ibnu Taimiyyah Sumpiuh tanggal 31 Mei – 1 Juni 2015 dapat berjalan dengan lancar. Barikut hasil audionya, bagi yang ingin mengambil faidah tafadhol untuk mendownload file-file berikut:

1. Sesi 1-Terjemahan Pembukaan Dauroh Imam Syafi’i IV (Ust. Saefudin Zuhri, Lc.)
2. Sesi 2-Telecomfren Syeikh Ruzaiq Al Qurasyi
3. Sesi 3-Terjemahan Telecomfren Syeikh Ruzaiq Al Qurasyi
4. Sesi 4-Jadilah Muslim Yang Bermanfaat Bagi Masyarakat dan Negaranya_ Syaikh Ruzaiq Al Qurasyi
5. Sesi Tanya Jawab

Kami persilahkan untuk menyebarkannya dengan tanpa merubah audio, baik dengan mengurangi ataupun dengan menambahi.
Kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya acara tersebut baik moril maupun materiil kami ucapkan jazakumullahu khairan katsira. Dan kami mohon maaf atas segala kekurangan yang ada.

Biografi Asy-Syaikh Ruzaiq Al Qurasyiy Hafizhahullah

Nama : Ruzaiq bin Hamid Al Hushainy Al Qurasyiy
Lahir : tahun 1375 Hijriyah/1956 Masehi.
Sebagai Imam dan Khotib di Masjid Jaami’ Al ‘Adzl di kota Thaif,berlangsung sejak 25 tahun yang lalu.

Riwayat belajar:
 Alumni Ma’had Al Haram Al Makki
 Belajar kepada beberapa Masyayikh diantaranya:
1. Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
2. Asy Syaikh Hammad Al Anshoriy
3. Asy Syaikh Umar Fallaatah
4. Asy Syaikh Muhammad Amaan Al Jaamiy
5. Asy Syaikh Rabi’ Al Madkhali hafidzahullahu Ta’ala
6. Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri Hafidzahullah
7. Asy Syaikh Shalih As Suhaimiy
 Mendapat ijazah ilmiyah dibidang ilmu hadits dan aqidah dr Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah
 Mendapat ijazah ilmiyah dr Asy Syaikh Abdullah bin ‘Aqil rahimahullah
 Mendapat ijazah ilmiyah dr Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafidzahullah
 Mendapat ijazah ilmiyah dr Asy Syaikh I’zaazuddin Al Arkaniy

Beberapa karangan beliau:
1. Syarhu Haaiyyah Abi Bakr bin Abi Daud, (dengan kata pengantar dari Asy Syaikh Ahmad an Najmi)
2. Tanbihul Baroroh ‘alal Huquq Al Asyaroh (dengan kata pengantar dari Syaikh Sholeh al Fauzan hafidzahullah)
3. Al Aqwalul shihah fi kaifiyyati aqdin nikah
4. Ushulul iman ‘inda Syaikhil Islam Muhammad bin Abdil Wahhab wa thoriqotuhu fil istidlal
5. Mukhtashor aqidah Syaikh islam Muhammad bin Abdil Wahhab {kitab pertama hingga ketiga sudah dicetak}

�� Al Multaqos Salafy Indonesia – Tas Riau.
✏ Abu Ibrohim Al Maidaniy.

HAID DAN NIFAS (Bag ke-1)

Apakah yang Dimaksud dengan Haid?

Jawab:

Haid secara bahasa artinya adalah sesuatu yang mengalir. Sedangkan secara istilah, haid adalah keluarnya darah yang berasal dari rahim wanita dewasa sebagai suatu kebiasaan (bukan karena luka, penyakit, keguguran, atau kelahiran) pada waktu tertentu.

Darah haid berasal dari penebalan dinding rahim. Gumpalan darah tersebut sebagai persiapan makanan bagi janin. Jika tidak hamil, darah itu akan dikeluarkan sebagai darah kotor yang tidak bermanfaat bagi tubuh. Namun, pada wanita hamil, darah itu bermanfaat bagi janin sebagai sumber makanan. Karena itu wanita yang hamil tidak mengalami haid.

Haid adalah fitrah kewanitaan yang Allah tetapkan bagi wanita keturunan Adam. Pada saat berangkat haji bersama rombongan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, ibunda kaum beriman Aisyah radhiyallahu anha mengalami haid dan beliau menangis. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menghiburnya dan menyatakan bahwa itu adalah ketetapan Allah untuk para wanita:

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

Sesungguhnya ini adalah ketetapan Allah untuk putri-putri (keturunan) Adam (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Apakah Darah Haid Memiliki Ciri-Ciri Khusus?

Jawab:

Ciri-ciri darah haid: merah pekat kehitam-hitaman, kental terkadang bergumpal-gumpal, dan baunya khas (amis). Ciri khas tersebut sudah dikenal oleh para wanita.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ دَمَ الْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ

Sesungguhnya darah haid adalah darah kehitam-hitaman yang sudah dikenal (H.R Abu Dawud dan anNasaai, dishahihkan Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Albany)

Apa Saja yang Tidak Boleh Dilakukan oleh Wanita yang Haid?

Jawab:

Wanita haid tidak boleh:

1⃣Sholat

Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy:

إِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ

Jika datang (masa) haid, tinggalkanlah sholat (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

2⃣Berpuasa (shoum)

Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

Bukankah seorang wanita jika haid ia tidak sholat dan tidak berpuasa? (H.R al-Bukhari dari Abu Said al-Khudry)

3⃣Berdiam diri di masjid

Sebagaimana perintah Nabi agar wanita yang haid menjauhi tempat sholat (Musholla tanah lapang) saat Ied (H.R al-Bukhari dari Hafshah)

4⃣Memegang mushaf al-Quran

لَا تَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا وَأَنْتَ طَاهِرٌ

Janganlah menyentuh al-Quran kecuali engkau dalam keadaan suci (H.R al-Hakim, dishahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahaby, Ibnul Mulaqqin, al-Munawy).

5⃣Berhubungan suami istri

Sebagaimana dalam al-Quran surat al-Baqoroh ayat 222. Meski suci dari haid namun belum mandi, belum boleh berhubungan suami istri.

6⃣Thawaf di Baitullah (Ka’bah)

Pada saat Aisyah mengalami haid dalam perjalanan haji, Rasul menyatakan:

فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

Lakukanlah apa yang dilakukan orang yang berhaji selain thawaf di Baitullah, hingga engkau suci (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

✅Bolehkah Bagi Seorang Wanita Haid Membaca al-Quran Tanpa Menyentuh Mushaf?

Jawab:

Ya, boleh. Karena Nabi memerintahkan kepada Aisyah yang mengalami haid untuk melakukan hal-hal yang dilakukan oleh Haji kecuali thawaf. Telah dimaklumi bahwa para jamaah haji juga tidak terlepas dari membaca al-Quran. Hal ini sebagaimana difatwakan Syaikh Bin Baz (Fataawa Islamiyyah 4/25)).

✅Apakah Tanda- Tanda Berhentinya Haid?

Jawab:

Tanda berhentinya haid ada 2:

1⃣Munculnya lendir putih agak keruh sebagai pertanda suci (al-Qoshshotul baidha’). Cairan tersebut sudah dikenal oleh para wanita sebagai pertanda berhentinya masa haid.

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ أَبِي عَلْقَمَةَ عَنْ أُمِّهِ مَوْلَاةِ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ النِّسَاءُ يَبْعَثْنَ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ بِالدِّرَجَةِ فِيهَا الْكُرْسُفُ فِيهِ الصُّفْرَةُ مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ يَسْأَلْنَهَا عَنِ الصَّلَاةِ فَتَقُولُ لَهُنَّ لَا تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ تُرِيدُ بِذَلِكَ الطُّهْرَ مِنْ الْحَيْضَةِ

Dari Alqomah bin Abi Alqomah dari ibunya bekas budak Aisyah –Ummul Mukminin- bahwasanya ia berkata: para wanita mengirimkan kepada Aisyah ‘dirojah’ (potongan kain terlipat) yang di dalamnya terdapat kapas yang mengandung darah haid kekuningan. Mereka bertanya tentang sholat (jika darah haidnya seperti dalam contoh tersebut). Aisyah menyatakan: Janganlah tergesa-gesa sebelum ia melihat al-Qoshshotul baidha’. Yang beliau maksudkan adalah suci dari haid (H.R Malik dalam al-Muwaththa’)

2⃣Berhentinya darah dari kemaluan. Jika diletakkan pembalut atau kapas putih pada kemaluan, tidak ada darah sama sekali (tetap putih bersih).

Adakalanya wanita tidak mengeluarkan al-Qoshshotul baidho’ sebagai tanda suci, maka cukup dengan berhentinya darah mengalir menunjukkan telah sucinya wanita tersebut.

Ditulis Oleh: Al Ustadz Abu Ustman Kharisman

Sumber: http://salafy.or.id

Kajian Ilmiyyah Ulama Arab Saudi 2015

Dauroh Syaikh 2015 PPIT

PELAJARAN PENTING UCAPAN “INSYA ALLAH” DARI KISAH TIGA NABI

Ucapan Insya Allah arti secara bahasa adalah: “jika Allah menghendaki”.

Seorang muslim mengucapkan ucapan ini ketika berjanji atau berencana mengerjakan suatu hal di waktu yang akan datang. Ia mengucapkan InsyaAllah karena ia tidak tahu apakah hal yang akan dikerjakannya itu akan benar-benar terjadi atau tidak. Karena semua hal terjadi atau tidak terjadi adalah atas kehendak Allah, berdasarkan taqdir Allah. Ucapan InsyaAllah juga mengandung doa isti’anah (minta pertolongan) kepada Allah agar dimudahkan mengerjakan suatu hal itu.

Ada beberapa contoh kejadian yang pernah dialami oleh para Nabi, ketika mereka tidak mengucapkan InsyaAllah dalam mengucapkan sesuatu yang akan terjadi atau menjanjikan sesuatu, Allah tegur mereka. Sebaliknya, saat mereka mengucapkan InsyaAllah, Allah beri mereka kemudahan dan hasil akhir yang baik.
Dan adapula kejadian saat seorang Nabi mengucapkan InsyaAllah, namun dengan takdir Allah sesuatu itu tidak terjadi.

Contoh pertama: kejadian yang dialami Nabi Sulaiman alaihissalaam.
Nabi Sulaiman pernah bersumpah, bahwa dalam satu malam beliau akan menggilir (untuk berhubungan badan) dengan sekian puluh istrinya (sebagian riwayat menyatakan 100 atau 99, sebagian lagi 90, sebagian lagi menyatakan 70, sebagian lagi menyatakan 60), dan hasilnya semua istri itu akan melahirkan anak-anak tangguh menjadi pasukan yang akan berjihad di jalan Allah. Satu Malaikat mengingatkan agar beliau mengucapkan InsyaAllah. Namun, qoddarallah Nabi Sulaiman tidak mengucapkannya. Hingga akhirnya ketika Nabi Sulaiman melakukan hal itu ternyata yang hamil hanya satu istri dan itupun melahirkan setengah manusia. Hal ini disebutkan dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim.

قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلَام لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ بِمِائَةِ امْرَأَةٍ تَلِدُ كُلُّ امْرَأَةٍ غُلَامًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ لَهُ الْمَلَكُ قُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَلَمْ يَقُلْ وَنَسِيَ فَأَطَافَ بِهِنَّ وَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ إِلَّا امْرَأَةٌ نِصْفَ إِنْسَانٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ أَرْجَى لِحَاجَتِهِ

Sulaiman bin Dawud alaihimassalaam berkata: Sungguh aku akan berkeliling (menggilir) 100 istriku malam ini, sehingga tiap wanita akan melahirkan anak yang akan berjihad di jalan Allah. Kemudian satu Malaikat mengucapkan kepada beliau: Ucapkan Insya Allah. Tapi Nabi Sulaiman tidak mengucapkan dan lupa. Kemudian beliau berkeliling pada istri-istrinya, hasil selanjutnya tidak ada yang melahirkan anak kecuali satu orang wanita yang melahirkan setengah manusia. Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam bersabda: Kalau Nabi Sulaiman mengucapkan Insya Allah, niscaya beliau tidak melanggar sumpahnya, dan lebih diharapkan hajatnya terpenuhi (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, lafadz hadits sesuai riwayat al-Bukhari).

Dalam hadits ini terkandung beberapa faidah penting bahwa ucapan InsyaAllah jika disebutkan dalam sumpah, kemudian ternyata tidak tercapai, maka orang itu tidak dianggap melanggar sumpah. Faidah berikutnya, ucapan InsyaAllah adalah memudahkan agar hajat terpenuhi.

Karena itu Allah berikan bimbingan adab kepada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam agar janganlah beliau mengucapkan: Aku akan melakukan ini besok. Dengan memastikan. Kecuali jika beliau mengucapkan InsyaAllah.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (23) إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (24)

Dan janganlah sekali-kali engkau mengucapkan : Sesungguhnya aku akan melakukan hal itu besok. Kecuali (dengan mengucapkan) InsyaAllah. Dan ingatlah Tuhanmu ketika engkau lupa. Dan Ucapkanlah: Semoga Tuhanku memberikan petunjuk pada jalan terdekat menuju hidayah (Q.S al-Kahfi ayat 23-24).

al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: Ini adalah petunjuk dari Allah kepada Rasul-Nya –semoga sholawat Allah dan keselamatan dari Allah kepada beliau- kepada adab. Yaitu jika beliau telah memiliki tekad untuk mengerjakan sesuatu di masa yang akan datang, hendaknya mengembalikan hal itu kepada Masyi-ah (Kehendak) Allah Azza Wa Jalla, Yang Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Yang Maha Mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang/akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi, bagaimana kalau terjadi (Tafsir Ibn Katsir)

Contoh Kedua: kejadian yang terjadi pada Nabi Ismail.

Saat beliau diberitahukan oleh ayahnya bahwa ayahnya mendapat wahyu melalui mimpi untuk menyembelih beliau, Nabi Ismail menyatakan:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan dapati aku InsyaAllah termasuk orang-orang yang sabar (Q.S as-Shooffaat 102)

Nabi Ismail pasrah kepada Allah dan menyatakan: InsyaAllah engkau akan dapati aku termasuk orang yang sabar. Akibatnya, Allah beri hasil akhir yang baik. Beliau tidak jadi menjadi obyek yang disembelih. Namun diganti dengan kambing.

Contoh Ketiga: kejadian yang terjadi pada Nabi Musa.

Saat bertemu Khidhr, Nabi Musa ingin mengambil ilmu darinya. Nabi Musa juga berjanji dengan mengucapkan InsyaAllah bahwa beliau akan berusaha sabar tidak akan bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Khidhr, namun qoddarollah hal itu tidak tercapai.

قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Nabi Musa berkata : Engkau akan mendapati aku insyaAllah sebagai orang yang sabar dan tidak akan bermaksiat terhadap perintahmu (Q.S al-Kahfi ayat 69)

Namun di akhir kisah, ternyata Nabi Musa tidak bisa bersabar hingga 3 kali. Kemudian Khidhr menyatakan:

ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

Demikianlah penjelasan dari hal-hal yang engkau tidak mampu bersikap sabar (Q.S al-Kahfi ayat 82)

Ini menunjukkan bahwa atas takdir Allah kadangkala meski seorang sudah berupaya dan sebelumnya mengucapkan InsyaAllah, tidak terjadi yang diharapkannya. Namun, ia harus yakin bahwa segala yang ditakdirkan Allah adalah baik untuknya.

Dari 3 kisah Nabi di atas, kita bisa mengambil faidah, bahwa hendaknya jika akan berjanji kita mengucapkan InsyaAllah dengan harapan Allah akan menolong kita mendapatkan yang diinginkan. Namun jika ada teman kita yang mengucapkan InsyaAllah dalam janjinya kemudian tidak terpenuhi, kita berhusnudzdzhon bahwa itu memang atas takdir Allah dan ia telah berusaha memenuhinya. Dan ucapan InsyaAllah tidak pantas untuk dijadikan tameng oleh seorang muslim guna bermalas-malasan atau sudah ada niatan untuk menyelisihinya. Baarakallaahu fiikum.

Di Tulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

Sumber: http://salafy.or.id

PROGRAM TAKHOSSUS TAHFIZHUL QUR’AN DIBUKA KEMBALI

Alhamdulillah, pada tahun Pelajaran 2015-2016 M / 1436-1437 H Ma’had Ibnu Taimiyyah membuka kembali program TAKHOSSUS TAHFIZHUL QUR’AN LINNISA bagi anda yang ingin menyelesaikan hafalan Al Qur’an. Program ini ditempuh selama jenjang 2 tahun dengan ketentuan sebagai berikut:

SYARAT PENDAFTARAN :
1. Muslimah, usia minimal 12 tahun/lulus ma’had/SD/MI/yang sederajat.
2. Mendapat ijin tertulis dari orang tua/wali.
3. Sehat jasmani dan rohani (surat keterangan dokter)
4. Menyerahkan foto copy akte/ kenal lahir & KK
5. Menyerahkan foto copy identitas diri, atau ijazah terakhir atau surat keterangan dari RT/ desa setempat.
6. Datang langsung dengan diantar mahramnya.
7. Melampirkan surat pengantar (rekomendasi) dari ustadz setempat.

WAKTU PENDAFTARAN

 Pendaftaran dimulai pada tanggal 15 April – 5 Juni 2015 pada jam kerja (08.00 – 13.00 WIB)

Informasi hubungi: 085291462011 / 082136178278

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.