18 Wasiat Untuk Para Penghafal Al-Quran (Bag. 2)

Para pembaca yang dirahmati Allah..

Pada artikel sebelumnya sudah kita simak pemaparan 9 poin wasiat pertama untuk para penghafal Al-Quran. Pada artikel kali ini silahkan disimak kelanjutan dari poin sebelumnya. Selamat membaca.

10. wahai penghafal Al-Qur’an…. sesungguhnya penjagaan terhadap sesuatu yang tinggi lebih sulit dari pada usaha ketika mencapainya.

عن أبي موسى عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: تعاهدوا القرآن فو الذي نفسي بيده لهو أشد تفصيا من الابل في عقلها ”

“Dari Abu musa –semoga Allah meridhainya- bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jagalah Al-Quran ini, karena demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia lebih cepat lepas daripada unta dalam ikatannya”. (HR. Bukhari 4645). Baca lebih lanjut

Iklan

18 Wasiat Untuk Para Penghafal Al-Quran (Bag. 1)

Segala puji bagi Allah yang dengan ni’mat-Nya segala kebaikan sempurna. atas segala karunia dan kemuliaan-Nya lah sebagian besar saudari-saudariku yang baik dapat menghafal kitab-Nya, kami telah melihat pada diri mereka realisasi janji Allah berupa kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an dan mengambil pelajaran, sebagaimana firman Allah ta’aala:

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”. (QS. Al-Qamar: 17)

1. Maka aku ucapkan selamat kepadamu wahai penghafal Al-Qur’an, karena Allah telah mempergunakanmu untuk menghafal kitab-Nya di muka bumi ini. engkau adalah salah seorang yang Allah telah merealisasikan janji-Nya dengan mereka. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya; Baca lebih lanjut

Siapakah Mahrammu?

PERTANYAAN

Siapakah yang merupakan mahram kita?

JAWABAN

Mahram adalah orang yang haram untuk dinikahi karena adanya hubungan nasab, susuan, atau perkawinan.[1]

Adapun ketentuan tentang siapa saja yang termasuk dan yang bukan termasuk mahram telah dijelaskan dalam Al-Qur`an surah An-Nisâ` ayat 23,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَٰتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَٰتُكُمْ وَعَمَّٰتُكُمْ وَخَٰلَٰتُكُمْ وَبَنَاتُ ٱلْأَخِ وَبَنَاتُ ٱلْأُخْتِ وَأُمَّهَٰتُكُمُ ٱلَّٰتِىٓ أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَٰتُكُم مِّنَ ٱلرَّضَٰعَةِ وَأُمَّهَٰتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَٰٓئِبُكُمُ ٱلَّٰتِى فِى حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ ٱلَّٰتِى دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُوا۟ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَٰٓئِلُ أَبْنَآئِكُمُ ٱلَّذِينَ مِنْ أَصْلَٰبِكُمْ وَأَن تَجْمَعُوا۟ بَيْنَ ٱلْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Diharamkan atas kalian untuk (mengawini) ibu-ibu kalian, anak-anak perempuan kalian, saudara-saudara perempuan kalian, saudara-saudara perempuan dari ayah kalian, saudara-saudara perempuan dari ibu kalian, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki (kalian), anak-anak perempuan dari saudara perempuan (kalian), ibu-ibu kalian yang menyusui kalian, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu istri kalian (mertua), anak-anak istri kalian yang berada dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri, tetapi jika kalian belum bercampur dengan istri kalian itu (dan sudah kalian ceraikan), tidaklah berdosa kalian kawini, (dan kalian diharamkan terhadap) istri-istri anak-anak kandung kalian (menantu), dan menghimpun dua perempuan yang bersaudara (dalam perkawinan), kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam ayat ini disebutkan beberapa orang mahram, yaitu:

Pertama, أُمَّهَاتُكُمْ (ibu-ibu kalian). Ibu dalam bahasa arab artinya setiap yang nasab lahirmu kembali kepadanya. Definisi ini mencakup:

Ibu yang melahirkanmu.
Nenekmu dari ayah maupun ibumu.
Nenek ayahmu dari ayah maupun ibunya.
Nenek ibumu dari ayah maupun ibunya.
Nenek buyut ayahmu dari ayah maupun ibunya.
Nenek buyut ibumu dari ayah maupun ibunya.
dan seterusnya ke atas.

Kedua, وَبَنَاتُكُمْ (anak-anak perempuan kalian). Anak perempuan dalam bahasa arab artinya setiap perempuan yang nisbah kelahirannya kembali kepadamu. Definisi ini mencakup:

Anak perempuanmu.
Anak perempuan dari anakmu (cucu perempuan).
Anak perempuan dari cucumu (cicit perempuan).
dan seterusnya ke bawah.

Ketiga, وَأَخَوَاتُكُمْ (saudara-saudara perempuan kalian). Saudara perempuan ini meliputi:

Saudara perempuan seayah dan seibu.
Saudara perempuan seayah saja.
dan saudara perempuan seibu saja.

Keempat, وَعَمَّاتُكُمْ (saudara-saudara perempuan dari ayah kalian). Yang termasuk dalam kategori saudara perempuan ayah adalah:

Saudara perempuan ayah dari satu ayah dan ibu.
Saudara perempuan ayah dari satu ayah saja.
Saudara perempuan ayah dari satu ibu saja.
Masuk juga di dalamnya saudara-saudara perempuan kakek dari ayah maupun ibumu.
dan seterusnya ke atas.

Kelima, وَخَالاَتُكُمْ (saudara-saudara perempuan dari ibu kalian). Yang termasuk dalam saudara perempuan ibu sama seperti yang termasuk dalam saudara perempuan ayah, yaitu:

Saudara perempuan ibu dari satu ayah dan ibu.
Saudara perempuan ibu dari satu ayah saja.
Saudara perempuan ibu dari satu ibu saja.
Saudara-saudara perempuan nenek dari ayah maupun ibumu.
dan seterusnya ke atas.

Keenam, وَبَنَاتُ الْأَخِ (anak-anak perempuan dari saudara laki-laki). Anak perempuan dari saudara laki-laki mencakup:

Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ayah dan satu ibu.
Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ayah saja.
Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ibu saja.
Anak-anak perempuan dari anak perempuannya saudara laki-laki.
Cucu perempuan dari anak perempuannya saudara laki-laki.
dan seterusnya ke bawah.

Ketujuh, وَبَنَاتُ الْأُخْتِ (anak-anak perempuan dari saudara perempuan). Ini sama dengan anak perempuan saudara laki-laki, yaitu meliputi:

Anak perempuan dari saudara perempuan satu ayah dan ibu.
Anak perempuan dari saudara perempuan satu ayah saja.
Anak perempuan dari saudara perempuan satu ibu saja.
Anak-anak perempuan dari anak perempuannya saudara perempuan.
Cucu perempuan dari anak perempuannya saudara perempuan.
dan seterusnya ke bawah.

Catatan penting

Tujuh poin yang tersebut di atas adalah mahram karena nasab, sehingga kita bisa mengetahui bahwa ada empat orang yang bukan termasuk mahram walaupun ada hubungan nasab. Mereka itu adalah:

Anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ayah (sepupu).
Anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibu (sepupu).
Anak-anak perempuan dari saudara perempuan ayah (sepupu).
Anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibu (sepupu).
Mereka ini bukanlah mahram dan boleh dinikahi.

Kedelapan, وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِيْ أَرْضَعْنَكُمْ (ibu-ibu yang menyusui kalian). Yang termasuk ibu susuan adalah:

Ibu susuan itu sendiri.
Ibunya ibu susuan.
Neneknya ibu susuan.
dan seterusnya keatas.

Catatan Penting

Kita melihat bahwa, dalam ayat ini, ibu susuan dinyatakan sebagai mahram, sementara menurut ulama, pemilik susu adalah suaminya, karena sang suamilah yang menjadi sebab istrinya melahirkan sehingga mempunyai air susu. Maka penyebutan ibu susuan sebagai mahram dalam ayat ini adalah merupakan peringatan bahwa sang suami adalah sebagai ayah bagi anak yang menyusu kepada istrinya. Dengan demikian, anak-anak dari ayah dan ibu susuannya, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, dianggap sebagai saudaranya (sesusuan). Demikian pula halnya dengan saudara-saudara dari ayah dan ibu susuannya, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, dianggap sebagai paman dan bibinya. Oleh karena itulah, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menetapkan dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhâry dan Imam Muslim dari hadits Aisyah dan Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ sebagai berikut.

إِنَّهُ يُحْرَمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يُحْرَمُ مِنَ النَّسَبِ
“Sesungguhnya, menjadi mahramlah dari susuan, segala apa yang menjadi mahram dari nasab.”

Kesembilan, وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ (dan saudara-saudara perempuan kalian dari susuan). Yang termasuk dalam kategori saudara perempuan sesusuan adalah:

Perempuan yang engkau disusui oleh ibunya (ibu kandung maupun ibu tiri).
Atau perempuan itu menyusu kepada ibumu.
Atau engkau dan perempuan itu sama-sama menyusu pada seorang perempuan yang bukan ibu kalian berdua.
Atau perempuan yang menyusu kepada istri yang lain dari suami ibu susuanmu.

Kesepuluh, وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ (dan ibu istri-istri kalian). Ibu istri mencakup, ibu dalam nasab dan seterusnya keatas, serta ibu susuan dan seterusnya keatas . Mereka ini menjadi mahram jika terjadi akad nikah antara kalian dan anak perempuan mereka, walaupun belum bercampur.

Tidak ada perbedaan antara ibu dari nasab dan ibu susuan dalam kedudukan mereka sebagai mahram. Demikian pendapat jumhur ulama seperti Ibnu Mas’ûd, Ibnu Umar, Jâbir dan Imrân bin Husain, juga pendapat kebanyakan para tabiin dan pendapat Imam Malik, Imam Syâfi’i, Imam Ahmad dan Ashhâb Ar-Ra’yi, yang mereka berdalilkan dengan ayat yang telah tersebut di atas. Oleh karena itu, kita tidak bisa menerima perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyatakan kebolehan seorang lelaki menikah dengan ibu susuan istrinya dan saudara sesusuan istrinya. Wallâhu A’lam.

Kesebelas,

وَرَبَآئِبِكُمُ اللاَّتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِنْ نِسَآئِكُمُ اللاَّتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ (anak-anak istri kalian yang berada dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri, tetapi jika kalian belum bercampur dengan istri kalian itu (dan sudah kalian ceraikan), tidaklah berdosa kalian kawini). Ayat ini menunjukkan bahwa ar-rabâ`ib adalah mahram. Menurut bahasa arab, ar-rabâ`ib ini mencakup:

Anak-anak perempuan istrimu.
Anak-anak perempuan dari anak-anak istrimu ( cucu perempuannya istri).
Cucu perempuan dari anak-anak istrimu.
dan seterusnya ke bawah.

Namun, dalam ayat ini, ar-rabâ`ib menjadi mahram dengan syarat apabila ibunya telah digauli. Adapun kalau ibunya diceraikan atau meninggal sebelum digauli oleh suami sang ibu tersebut, ar-rabâ’ib ini bukan mahram dari suami ibunya, bahkan suami ibunya itu bisa menikah dengannya. Ini merupakan pendapat jumhur ulama seperti Imam Malik, Ats-Tsaury, Al-Auzâ’y, Ahmad, Ishâq, Abu Tsaur dan lain-lainnya. Hal ini berdasarkan zhahir ayat di atas,

مِّن نِّسَآئِكُمُ ٱلَّٰتِى دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُوا۟ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ

“Dari istri yang telah kalian campuri, tetapi jika kalian belum bercampur dengan istri kalian itu (dan sudah kalian ceraikan), tidaklah berdosa kalian kawini.”

Adapun yang tersebut dalam ayat pada kata dalam pemeliharaanmu (dari kata ar-rabâ`ib yang dalam pemeliharaanmu) bukanlah sebagai syarat agar ar-rabâ`ib dianggap sebagai mahram, karena semua ar-rabâ`ib, baik yang di dalam maupun yang di luar pemeliharaan, adalah mahram menurut pendapat jumhur ulama. Jadi kata dalam pemeliharaanmu hanya menunjukkan bahwa kebanyakan ar-rabâ`ib itu berada dalam pemeliharaan, atau hanya menunjukkan kedekatan ar-rabâ`ib tersebut dengan ayahnya. Dengan demikian, tampaklah hikmah mengapa ar-raba`ib ini menjadi mahram. Wallâhu A’lam.

Keduabelas, وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ (istri-istri anak-anak kandungmu [menantu]).
Ini meliputi:

Istri dari anak kalian.
Istri dari cucu kalian.
Istri dari anaknya cucu.
dan seterusnya kebawah, baik dari nasab maupun sesusuan.
Mereka semua menjadi mahram setelah akad nikah, dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini.[2]

Catatan

Demikianlah penjelasan tentang mahram dalam surah An-Nisâ`. Namun perlu diingat, pembicaraan dalam ayat ini, walaupun ditujukan langsung kepada laki-laki dan menjelaskan rincian tentang siapa yang merupakan mahram bagi mereka, tidaklah menunjukkan bahwa dalam ayat ini tidak dijelaskan tentang siapa mahram bagi perempuan, karena Mafhûm Mukhâlafah (pemahaman kebalikan) dari ayat ini menjelaskan hal tersebut.

Misalnya disebutkan dalam ayat, “Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian,” maka mafhûm mukhâlafah-nya adalah, “Wahai para ibu, diharamkan atas kalian menikah dengan anak-anak kalian.”

Permisalan lain, disebutkan dalam ayat, “Dan anak-anak perempuan kalian” maka mafhûm mukhâlafah-nya adalah, “Wahai anak-anak perempuan, diharamkan atas kalian menikah dengan ayah-ayah kalian,” dan demikian seterusnya.

Sebagai pelengkap pembahasan ini, kami sebutkan ayat dalam surah An-Nûr ayat 31,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ

“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki mereka yang tidak berkeinginan (kepada wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat.”

Demikianlah, mudah-mudahan jawaban ini bermanfaat. Wa âkhiru da’wâna `anilhamdu lillâhi Rabbil ‘Âlamîn.

[1] Lihat Ahkâm An-Nazhar Ilâ Al-Muharramât hal. 32.

[2] Lihat pembahasan di atas dalam Al-Mughny 9/513-518, Al-Ifshâh 8/106-110, Al-Inshâf 8/113-116, Majmu’ Al-Fatâwâ 32/62-67, Al-Jâmi’ Lil Ikhtiyârât Al-Fiqhiyyah 2/589-592, Zâdul Ma’âd 5/119-124, Taudhîhul Al-Ahkâm 4/394-395, Tafsir Al-Qurthuby 5/105-119, dan Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân.

Sumber: http://dzulqarnain.net/siapakah-mahrammu.html 

Pendaftaran Santri Baru 2018/2019

Mengenal Biografi Ringkas 5 Ulama Besar Yang Tidak Menikah

Inilah sebagian dari ulama kita yang rela tidak menikah karena kesibukan mereka dalam menuntut ilmu. Namun yang perlu diingat, menikah merupakan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak semestinya kita tinggalkan. Bahkan dalam keadaaan tertentu menikah dapat dihukumi wajib yaitu ketika seorang khawatir akan terjatuh pada hal-hal yang diharamkan.

Para ulama tersebut memandang dengan ijtihad mereka bahwa tidak menikah bagi diri mereka lebih banyak mendatangkan maslahat dan manfaat bagi umat ketimbang mereka menikah. Inilah diantara alasan kenapa mereka tidak menikah. Para ulama tersebut diantaranya: Baca lebih lanjut

💔 AKIBAT PERGAULAN YANG SALAH

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا، يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا، لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

“ Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya (menyesali perbuatannya), seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan sebagai teman karibku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan setan itu adalah penipu manusia.” [Al-Furqon: 27-29] Baca lebih lanjut

60 Pintu Kebaikan dan Penghapus Kesalahan

 

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan Salam senantiasa kami haturkan kepada penutup para Nabi dan utusan…

Ini adalah risalah untuk setiap muslim yang menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Karena tujuan besar setiap muslim adalah meninggalkan dunia dalam keadaan dosa-dosanya terhapus sehingga di hari kiamat nanti Allah tidak akan bertanya tentangnya dan akan memasukkan ke surga yang penuh dengan kenikkmatan dan tidak mengeluarkan darinya selamanya…..

Dalam Risalah yang pendek ini kami akan menyebutkan sebagian amalan-amalan yang dapat menghapuskan segala kesalahan dan padanya pahala yang besar, dari Hadits-hadits Rasulullsh Shallallaahu ‘laihi Wa sallam yang Shahih.

Kami memohon kepada Allah Yang tidak Ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Dia agar menerima amalan-amalan kita, Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Semoga bermanfaat. Amiin…..

1. Taubat kepada Allah subhanahu wata’ala.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من تاب قبل أن تطلع الشمس من مغربها تاب الله عليه

“Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah menerima taubatnya”.(HR. muslim, no: 2703).

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ. رَوَاهُ التِرْمِذِي

“Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hamba selama nafas belum sampai tenggorokan”.

2. Keluar dalam rangka untuk menuntut ilmu.

ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya dengannya jalan menuju surga”.(Riwayat muslim, no: 2699).

3. Dzikir kepada Allah ta’ala.

أَلاَ أُُنَبِّئُكُمْ بِخَيرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ ؟ قَالُوْا : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ! قَالَ : (( ذِكْرُاللهِ تَعَالَى))

“Maukah kalian, aku beritahukan tentang perbuatan yang terbaik, paling suci di sisi (Allah) Penguasa kalian, dan paling tinggi mengangkat derajat kalian; lebih baik bagi kalian dibandingkan dengan infaq emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian dibandingkan dengan bertemu dengan musuh, kemudian kalian memenggal lehernya atau mereka memenggal leher kalian?” Para sahabat berkata: “Tentu Mau!” Beliau bersabda: “Zikir mengingat Allah Yang Maha Tinggi”[HR. At-Tirmidzi]

4. Mengerjakan kebaikan dan menunjukkan orang lain kepadanya.

كل معروف صدقة

“Setiap yang ma’ruf(baik) adalah sadaqah, dan penunjuk kepada kebaikan akan mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya”. (Riwayat Bukhari, 10/374 dan Muslim, no: 1005)

5. Keutamaan Berdakwah kepada Allah ta’ala.

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا

“Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk Allah, Maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun”.(HR.Muslim no. 2674)

6. Memerintahkan kepada kebaikan Mencegah dari kemungkaran.

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

“Siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak bias maka dengan lisannya, dan jika tidak bias maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman”.(HR. Muslim no.49)

7. Membaca Al Qur’an.

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول اقرءوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

“Bacalah Al Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya”.(HR.Muslim no. 804)

8. Mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.

“خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ…”

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan yang mengajarkannya”.(HR. Bukhari no.9/66)

9. Mengucapkan salam.

لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم أفشوا السلام بينكم

“Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang apabila kalian melakukannya kalian akan saling mencintai?, yaitu sebarkanlah salam diantara kalian”. (HR.Muslim no.54)

10. mencintai seseorang karena Allah.

أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي

“Sesungguhnya Allah akan befirman di hari kiamat nanti, “Manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku akan menaungi mereka, pada saat tidak ada naungan selain naungan-Ku”.(HR.Muslim no. 2566)

11. Menjenguk orang sakit.

ما من مسلم يعود مسلما غدوة إلا صلى عليه سبعون ألف ملك حتى يمسي وإن عاده عشية إلا صلى عليه سبعون ألف ملك حتى يصبح وكان له خريف في الجنة

“Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim yang lain pada pagi hari melainkan 70.000 malaikat akan bershalawat (mendoakan ampunan) baginya sampai sore hari. Jika menjenguk pada sore hari maka 70.000 malaikat akan bershalawat baginya sampai pagi hari. Dia pun berhak untuk memiliki buah-buahan yang dipetik di surga.” [HR. at-Tirmidzi no. 969)

12. Menolong orang dalam meringankan hutang.

ومن يسر على معسر يسر الله عليه في الدنيا والآخرة

“Barangsiapa yang memberi kemudahan terhadap orang yang kesusahan, Maka Allah akan mudahkan kesusahannya baik dalam urusan dunia maupun akhirat”.(HR.Muslim no. 2699)

13. Menutupi Aib orang lain.

لا يستر الله على عبد في الدنيا إلا ستره الله يوم القيامة

“Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba lainnya di dunia. Melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat nanti”. (HR.Muslim no.2590)

14. Silaturrahim.

الرحم معلقة بالعرش تقول من وصلني وصله الله ومن قطعني قطعه الله

“Ar rahim itu tergantung di atas ‘Arsy, ia berkata: siapa yang menyambungkanku, maka Allah akan menyembungkannya. Dan siapa yang memutusku, maka Allah akan memutuskannya”. (HR. Bukhari 10/350, Muslim no. 2555)

15. Akhlaq yang baik.

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ ‏”‏ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ‏

Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang kebanyakan orang yang masuk surga? Maka beliau menjawab: yaitu, orang yang bertaqwa kepada Allah dan mempunyai akhlak yang baik”.(HR. Tirmidzi no.2003)

16. Jujur.

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena jujur akan mengarahkan kepada kebaikan. Dan sesungguhnya kebaikan akan mengarahkan ke surga”.(HR.Bukhari 10/423) (HR.Muslim no. 2607)

17. Menahan amarah.

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَىِّ الْحُورِ شَاءَ

“Barangsiapa yang menahan amarahnya, sedangkan ia mampu melakukannya, Maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluq-Nya pada hari kiamat hingga Dia memilihkan untuknya bidadari yang disukainya”.(HR.Tirmidzi no.2022)

18. Membaca do’a kaffaratul majlis.

من جلس في مجلس فكثر فيه لغطه فقال قبل أن يقوم من مجلسه ذلك سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك إلا غفر له ما كان في مجلسه ذلك

“Barangsiapa yang duduk di suatu majlis kemudian ia banyak salahnya. Lalu sebelum berdiri dari majlis tersebut ia membaca”Subhaanakallaahumma wa bihamdika, Asyhadu an laa ilaaha illa anta Astagfiruka wa Atuubu ilaik”,Melainkan Allah akan ampuni segala kesalahan yang ia lakukan di majlis tadi”. (HR.Tirmidzi no.3/153)

19. Sabar.

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu penyakit ,kesusahan atau kepayahan, kesedihan dan gangguan, hingga duri yang mengenainya, melainkan Allah akan menghapuskan baginya kesalahan-kesalahannya”. (Bukhari 10/91)

20.Berbakti kepada kedua orang tua.

رغم أنف ثم رغم أنف ثم رغم أنف قيل من يا رسول الله قال من أدرك أبويه عند الكبر أحدهما أو كليهما فلم يدخل الجنة

“Celaka, celaka, celaka, (shahabat) bertanya : Siapa ya Rasulullah ? : “Siapa yang mendapatkan kedua orang tuanya disaat tua, salah satunya atau keduanyatetapi (dengan itu) tidak masuk syurga”. (HR.Muslim no. 2551)

21. Memperhatikan para janda dan anak-anak yatim.

السَّاعِى عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِيْنِ كَالْمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ –وَأَحْسِبُهُ قَالَ-: وَكَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ.

“Orang yang memperhatikan janda dan orang miskin bagaikan mujahid di jalan Allah “ saya (Abu Hurairah) mengira beliau juga bersabda : “ Bagaikan orang yang beribadah tiada henti dan bagaikan orang yang selalu shoum” (HR.Bukhari 10/366)

22. Menanggung anak yatim.

أنا وَ كَافِلُ اليَتِيْمِ في الجَنَّةِ هكَذَا وَ أشَارَ بَالسَبَابَةِ وَ الوُسْطَى وَ فَرَّجَ بَيْنَهُمَا

“Saya dan orang yang mengurusi anak yatim (nanti) di Syurga seperti ini, seraya mengisyaratkan dua jarinya”. (HR.Bukhari 10/365)

23. Wudhu.

من توضأ فأحسن الوضوء خرجت خطاياه من جسده حتى تخرج من تحت أظفاره

“Siapa yang berwudhu dan melakukannya dengan baik, maka segala kesalahannya keluar dari tubuhnya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya”. (HR.Muslim no. 245).

24. Mengucapkan Syahadat sesudah wudhu.

ما منكم من أحد يتوضأ فيبلغ أو فيسبغ الوضوء ثم يقول أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبد الله ورسوله إلا فتحت له أبواب الجنة الثمانية يدخل من أيها شاء

“Siapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya kemudian mengucapkan : Asyhadu alla ilaah illallahu wahdahu laa syarikalah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh, Allahummaj’alni minattawwabin waj’alni minal mutathahhirin, maka akan dibuka baginya pintu-pintu syurga yang dia dapat masuk dari mana saja dia suka”. (HR.Muslim no. 234)

25. Mengulang-ulang kalimat yang diucapkan muadzin.

مَنْ قَالَ عِنْدَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: “اَللّهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَـائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا اَلْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ،” حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Barangsiapa yang setelah adzan mengucapkan “Allaahumma Rabba Haadzihid da’watit tammati Wa shshalaatul Qaa-imah, Aati Muhammad Al wasilata Wal fadhiilata , Wab ‘atshu Maqaaman Mahmudan Alladzii wa’adtahu”, Maka halal baginya syafa’atku di hari kiamat”. (HR. Bukhari 2/77)

26. Membangun Masjid.

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ الهِّ بَنَى الهُب لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang membangun masjid karena mengharap Wajah Allah, Maka Allah akan bangunkan baginya yang sepertinya di surga”. (HR.Bukhari 450)

27. Bersiwak.

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا قَامَ مِنَ النَّوْمِ يَشُوْصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

“Seandainya aku tidak memberatkan ummatku, sungguh aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap mau shalat”. (HR. Bukhari 2/331, HR. Muslim 252)

28. Pergi ke masjid.

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللّٰهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

“Barangsiapa pergi pagi hari ke masjid, atau petang hari, akan Allah sediakan untuknya tempat di surga setiap kali dia pergi (pagi atau petang hari).” (HR.Bukhari 2/124, Muslim no. 669).

29. Shalat lima waktu.

مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Tidaklah seorang muslim didatangi shalat fardlu, lalu dia membaguskan wudlunya dan khusyu’nya dan shalatnya, melainkan itu menjadi penebus dosa-dosanya terdahulu, selama dia tidak melakukan dosa besar. Dan itu (berlaku) pada sepanjang zaman.”(HR. Muslim no. 228)

30. Shalat fajr dan ashar.

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa shalat pada kedua waktu dingin (ashar dan subuh), maka ia akan masuk surga”. (HR.Bukhari 2/43).

31. Shalat Jum’at.

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

“Barangsiapa yang wudlu lalu memperbaiki wudlunya, kemudian mendatangi shalat jum’at, lalu diam mendengarkan (khutbah), Maka segala dosanya diampuni antaranya dengan jum’at setelahnya, dan ditambah 3 hari”. (HR.Muslim no.857)

32. Memanfaatkan waktu dikabulkanya do’a di hari jum’at.

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Sesungguhnya pada hari Jum’at terdapat suatu jam (waktu) tertentu, tidaklah seorang muslim mendapati waktu tersebut dan berdoa kepada Allah memohon kebaikan, melainkan Allah akan memenuhi permohonannya“. (HR. Bukhari 2/344, Muslim no.852)

33. Mengiringi shalat fardhu dengan sunnah Rawatib.

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ما من عبد مسلم يصلي لله كل يوم ثنتي عشرة ركعة تطوعا غير فريضة إلا بنى الله له بيتا في الجنة

“Tidak ada seorang hamba yang shalat sunnah setiap hari sebanyak 12 rakaat kecuali Allah membangun untuknya sebuah rumah di surga“. (HR. Muslim no. 728)

34. Shalat dua Raka’at setelah melakukan dosa.

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ

“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa, kemudian bersuci lalu shalat dua raka’at, kemudian memohon ampun kepada Allah, kecuali akan diampuni dosa-dosanya”. (HR. Abu Daud no 1521)

35. Shalat malam (Qiyamullail).

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ الصَّلاَةُ فِيْ جَوْفِ اللَّيْلِ.

“Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (HR. Muslim no. 1163)

36. Shalat Dhuha.

“Setiap tulang persendian kalian harus dishadaqahi, setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, amar ma’ruf adalah shadaqah, nahi munkar adalah shadaqah, yang demikian itu dapat terbalas dengan melakukan dua rakaat shalat Dhuha”. (HR.Muslim no.720)

37. Bershalawat atas Nabi.

“Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, Maka Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali”. (HR.Muslim no. 384)

38. Puasa.

“tidaklah seorang hamba suatu hari berpuasa di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya pada hari itu dari api neraka selama 70 tahun”. (HR. Bukhari 6/35, Muslim no.1153)

39. Puasa tiga hari setiap bulan.

“puasa tiga hari dari setiap bulan seperti puasa setahun penuh” . (HR.Bukhari 4/192, Muslim no.1159)

40. Puasa di bulan Ramadhan.

“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari 4/221, Muslim no 760)

41. Puasa 6 hari dari bulan syawwal.

“Barang siapa yang puasa di bulan Ramadhan kemudian mengirinya dengan puasa 6 hari di bulan Syawwal, Maka dia seperti puasa setahun penuh”. (HR.Muslim no. 1164)

42. Puasa hari arafah.

“puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang telah lalu dan yang akan datang”. (HR.Muslim no. 1162)

43. Puasa hari ‘asyura.

“puasa Asyura aku berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan dosa setahun yang telah lalu”. (HR.Muslim no. 1162)

44. Memberi makanan orang berpuasa.

“Barang siapa yang memberi buka orang puasa, maka baginya seperti pahalanya, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun”. (HR Tirmidzi no. 807)

45. Qiyam lailatul Qadr.

“Barang siapa yang berdiri (shalat) pada malam lailatul qadr dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, Maka Allah ampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari 4/221, Muslim no. 1165)

46. Shadaqah.

“shadaqah itu dapat memadamkan kesalahan seperti air dapat memadamkan api”. (HR.Tirmidzi no. 2616).

47. Haji dan Umrah.

“Umrah pertama ke umrah selanjutnya adalah kaffarah diantara keduanya, dan haji mabrur tidak ada pahala baginya melainkan surga”. (HR.Muslim no. 1349)

48. Beramal shalih di 10 hari pertama bulan dzulhijjah.

“Tidak ada hari-hari untuk beramal shalih yang paling Allah cintai di dalamnya melainkan hari-hari ini, yakni 10 hari dzulhijjah. Para sahabat bertanya: tidak juga jihad di jalan Allah?, beliau menjawab: “tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian dia tidak kembali dengannya sesuatu pun”. (HR. Bukhari 2/381).

49. Jihad di jalan Allah.

“Ribat (berjaga-jaga)di jalan Allah satu hari adalah lebih baik dari pada dunia dan seisinya serta tempat cambuk salah seorang dari kalian di surga adalah lebih baik dari pada dunia dan seisinya”. (HR. Bukhari, 6/11).

50. Berinfaq di jalan Allah.

“Barang siapa yang membekali orang yang berperang berarti ia telah berperang dan barang siapa yang membekali keluarga orang yang berperang berarti ia telah berperang. (HR. Bukhari, 11/154, dan Muslim, no: 264).

51. Shalat mayyit dan mengiringi jenazahnya.

“Barang siapa yang menyaksikan jenazah dan menshalatinya, maka ia memperoleh pahala satu kirat dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai dikuburkan, maka ia akan memperoleh dua kirat. Ditanyakan apa yang dimaksud dengan dua kirat? Maka beliau menjawab : seperti dua gunung yang besar”. (HR. Bukhari, 3/158 dan Muslim, no: 945).

52. Menjaga lisan dan kemaluan.

“Barang siapa yang menjamin antara dua bibir (lisan) dan antara kaki (kemaluan), maka aku akan menjamin baginya surga”. (HB. Bukhari, 11/264, dan Muslim, no: 265).

53. Keutamaan “laa ilaaha illa llaah” dan “Subhaallaah wa bihamdihi”.

“Barang siapa yang mengucapkan “laa ilaaha illallaah Wahdahu laa syariikalah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in Qadiir” dalam sehari 100 kali, maka ia bagaikan memerdekakan 10hamba sahaya, dan dicatat baginya 100 kebaikan serta dihapus baginya 100 kesalahan, dan ia ada dalam penjagaan dari gangguan syetan pada hari itu hingga sore hari. Serta tidak ada seorang pun yang datang dengan sesuatu yang lebih utama dari apa yang telah datang kepadanya, melainkan seseorang yang beramal lebih dari pada itu”.

“Dan barang siapa yang mengucapkan “subhaanakallaahumma wa bihamdihi” dalam sehari 100 kali, maka dihapus baginya segala kesalahannya walau pun sebanyak buih di lautan”. ( HR.Muslim no.2691)

54. Menyingkirkan gangguan dari jalan.

“Sesungguhnya saya melihat seorang yang mondar mandir dalam surga karena memotong sebuah pohon kayu di tengah jalan yang mengganggu (lalu lintas) orang banyak”. (HR.Muslim)

55. Mendidik 3 anak perempuan dan mengayomi mereka.

“Barangsiapa yang mempunyai 3 anak perempuan, kemudian mengurus mereka, menyayangi dan menjamin (kebutuhan mereka), Maka sungguh wajib baginya surga”. (HR.Ahmad dengan sanad jayyid)

56. Berbuat baik terhadap hewan atau binatang.

“telah diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang melihat seekor anjing menjilat-jilat tanah karena kehausan, maka ia mengambil sepatunya, lalu menciduk air untuknya hingga ia memberinya minum, maka Allah berterima kasih kepadanya dan memasukkannya ke surga”. (HR. Bukhari)

57. Meninggalkan al miraa-a (Perdebatan).

“Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar“. (HR.Abu Daud)

58. Mengunjungi saudara karena Allah.

“Maukah kalian aku beritahu tentang orang-orang yang ada di surga?, para sahabat menjawab: tentu ya Rasulullah. Maka Nabi Saw bersabda: Nabi ada di surga, Abu Bakar Ash shiddiq ada di surga, dan orang yang mengunjungi saudaranya di penghujung mesir, dia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah ada di surga”. (At Thabrani- hadits hasan)

59. Ketaatan wanita terhadap suaminya.

“jika seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menta’ati suaminya, Maka ia masuk surga dari pintu mana saja yang disukainya”. (Ibnu hibban-hadits shahih)

60. Tidak meminta-minta kepada manusia sesuatu pun.

“Barang siapa yang menjamin bagiku untuk tidak meminta-minta kepada orang sesuatu pun, Maka aku menjamin baginya dengan surga”. (Ahlus sunan – Shahih).

 

Alih bahasa

Al-faqiir ila afwi robbih

Hamidin As-sidawy al-maky, Abu fayha

Makkah Al-mukarramah

(27/2/1435 H)

[1] . Di terjemahkan dari buletin yang berjudul 60 sittin min abwa al-khair wa kaffaaratul khathaya, penerbit daar al-wathan.

Sumber: http://cahayaummulquro.com/60-pintu-kebaikan-dan-penghapus-kesalahan/