HAID DAN NIFAS (Bag ke-1)

Apakah yang Dimaksud dengan Haid?

Jawab:

Haid secara bahasa artinya adalah sesuatu yang mengalir. Sedangkan secara istilah, haid adalah keluarnya darah yang berasal dari rahim wanita dewasa sebagai suatu kebiasaan (bukan karena luka, penyakit, keguguran, atau kelahiran) pada waktu tertentu.

Darah haid berasal dari penebalan dinding rahim. Gumpalan darah tersebut sebagai persiapan makanan bagi janin. Jika tidak hamil, darah itu akan dikeluarkan sebagai darah kotor yang tidak bermanfaat bagi tubuh. Namun, pada wanita hamil, darah itu bermanfaat bagi janin sebagai sumber makanan. Karena itu wanita yang hamil tidak mengalami haid.

Haid adalah fitrah kewanitaan yang Allah tetapkan bagi wanita keturunan Adam. Pada saat berangkat haji bersama rombongan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, ibunda kaum beriman Aisyah radhiyallahu anha mengalami haid dan beliau menangis. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menghiburnya dan menyatakan bahwa itu adalah ketetapan Allah untuk para wanita:

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

Sesungguhnya ini adalah ketetapan Allah untuk putri-putri (keturunan) Adam (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Apakah Darah Haid Memiliki Ciri-Ciri Khusus?

Jawab:

Ciri-ciri darah haid: merah pekat kehitam-hitaman, kental terkadang bergumpal-gumpal, dan baunya khas (amis). Ciri khas tersebut sudah dikenal oleh para wanita.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ دَمَ الْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ

Sesungguhnya darah haid adalah darah kehitam-hitaman yang sudah dikenal (H.R Abu Dawud dan anNasaai, dishahihkan Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Albany)

Apa Saja yang Tidak Boleh Dilakukan oleh Wanita yang Haid?

Jawab:

Wanita haid tidak boleh:

1⃣Sholat

Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy:

إِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ

Jika datang (masa) haid, tinggalkanlah sholat (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

2⃣Berpuasa (shoum)

Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

Bukankah seorang wanita jika haid ia tidak sholat dan tidak berpuasa? (H.R al-Bukhari dari Abu Said al-Khudry)

3⃣Berdiam diri di masjid

Sebagaimana perintah Nabi agar wanita yang haid menjauhi tempat sholat (Musholla tanah lapang) saat Ied (H.R al-Bukhari dari Hafshah)

4⃣Memegang mushaf al-Quran

لَا تَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا وَأَنْتَ طَاهِرٌ

Janganlah menyentuh al-Quran kecuali engkau dalam keadaan suci (H.R al-Hakim, dishahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahaby, Ibnul Mulaqqin, al-Munawy).

5⃣Berhubungan suami istri

Sebagaimana dalam al-Quran surat al-Baqoroh ayat 222. Meski suci dari haid namun belum mandi, belum boleh berhubungan suami istri.

6⃣Thawaf di Baitullah (Ka’bah)

Pada saat Aisyah mengalami haid dalam perjalanan haji, Rasul menyatakan:

فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

Lakukanlah apa yang dilakukan orang yang berhaji selain thawaf di Baitullah, hingga engkau suci (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

✅Bolehkah Bagi Seorang Wanita Haid Membaca al-Quran Tanpa Menyentuh Mushaf?

Jawab:

Ya, boleh. Karena Nabi memerintahkan kepada Aisyah yang mengalami haid untuk melakukan hal-hal yang dilakukan oleh Haji kecuali thawaf. Telah dimaklumi bahwa para jamaah haji juga tidak terlepas dari membaca al-Quran. Hal ini sebagaimana difatwakan Syaikh Bin Baz (Fataawa Islamiyyah 4/25)).

✅Apakah Tanda- Tanda Berhentinya Haid?

Jawab:

Tanda berhentinya haid ada 2:

1⃣Munculnya lendir putih agak keruh sebagai pertanda suci (al-Qoshshotul baidha’). Cairan tersebut sudah dikenal oleh para wanita sebagai pertanda berhentinya masa haid.

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ أَبِي عَلْقَمَةَ عَنْ أُمِّهِ مَوْلَاةِ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ النِّسَاءُ يَبْعَثْنَ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ بِالدِّرَجَةِ فِيهَا الْكُرْسُفُ فِيهِ الصُّفْرَةُ مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ يَسْأَلْنَهَا عَنِ الصَّلَاةِ فَتَقُولُ لَهُنَّ لَا تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ تُرِيدُ بِذَلِكَ الطُّهْرَ مِنْ الْحَيْضَةِ

Dari Alqomah bin Abi Alqomah dari ibunya bekas budak Aisyah –Ummul Mukminin- bahwasanya ia berkata: para wanita mengirimkan kepada Aisyah ‘dirojah’ (potongan kain terlipat) yang di dalamnya terdapat kapas yang mengandung darah haid kekuningan. Mereka bertanya tentang sholat (jika darah haidnya seperti dalam contoh tersebut). Aisyah menyatakan: Janganlah tergesa-gesa sebelum ia melihat al-Qoshshotul baidha’. Yang beliau maksudkan adalah suci dari haid (H.R Malik dalam al-Muwaththa’)

2⃣Berhentinya darah dari kemaluan. Jika diletakkan pembalut atau kapas putih pada kemaluan, tidak ada darah sama sekali (tetap putih bersih).

Adakalanya wanita tidak mengeluarkan al-Qoshshotul baidho’ sebagai tanda suci, maka cukup dengan berhentinya darah mengalir menunjukkan telah sucinya wanita tersebut.

Ditulis Oleh: Al Ustadz Abu Ustman Kharisman

Sumber: http://salafy.or.id

Kajian Ilmiyyah Ulama Arab Saudi 2015

Dauroh Syaikh 2015 PPIT

PELAJARAN PENTING UCAPAN “INSYA ALLAH” DARI KISAH TIGA NABI

Ucapan Insya Allah arti secara bahasa adalah: “jika Allah menghendaki”.

Seorang muslim mengucapkan ucapan ini ketika berjanji atau berencana mengerjakan suatu hal di waktu yang akan datang. Ia mengucapkan InsyaAllah karena ia tidak tahu apakah hal yang akan dikerjakannya itu akan benar-benar terjadi atau tidak. Karena semua hal terjadi atau tidak terjadi adalah atas kehendak Allah, berdasarkan taqdir Allah. Ucapan InsyaAllah juga mengandung doa isti’anah (minta pertolongan) kepada Allah agar dimudahkan mengerjakan suatu hal itu.

Ada beberapa contoh kejadian yang pernah dialami oleh para Nabi, ketika mereka tidak mengucapkan InsyaAllah dalam mengucapkan sesuatu yang akan terjadi atau menjanjikan sesuatu, Allah tegur mereka. Sebaliknya, saat mereka mengucapkan InsyaAllah, Allah beri mereka kemudahan dan hasil akhir yang baik.
Dan adapula kejadian saat seorang Nabi mengucapkan InsyaAllah, namun dengan takdir Allah sesuatu itu tidak terjadi.

Contoh pertama: kejadian yang dialami Nabi Sulaiman alaihissalaam.
Nabi Sulaiman pernah bersumpah, bahwa dalam satu malam beliau akan menggilir (untuk berhubungan badan) dengan sekian puluh istrinya (sebagian riwayat menyatakan 100 atau 99, sebagian lagi 90, sebagian lagi menyatakan 70, sebagian lagi menyatakan 60), dan hasilnya semua istri itu akan melahirkan anak-anak tangguh menjadi pasukan yang akan berjihad di jalan Allah. Satu Malaikat mengingatkan agar beliau mengucapkan InsyaAllah. Namun, qoddarallah Nabi Sulaiman tidak mengucapkannya. Hingga akhirnya ketika Nabi Sulaiman melakukan hal itu ternyata yang hamil hanya satu istri dan itupun melahirkan setengah manusia. Hal ini disebutkan dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim.

قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلَام لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ بِمِائَةِ امْرَأَةٍ تَلِدُ كُلُّ امْرَأَةٍ غُلَامًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ لَهُ الْمَلَكُ قُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَلَمْ يَقُلْ وَنَسِيَ فَأَطَافَ بِهِنَّ وَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ إِلَّا امْرَأَةٌ نِصْفَ إِنْسَانٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ أَرْجَى لِحَاجَتِهِ

Sulaiman bin Dawud alaihimassalaam berkata: Sungguh aku akan berkeliling (menggilir) 100 istriku malam ini, sehingga tiap wanita akan melahirkan anak yang akan berjihad di jalan Allah. Kemudian satu Malaikat mengucapkan kepada beliau: Ucapkan Insya Allah. Tapi Nabi Sulaiman tidak mengucapkan dan lupa. Kemudian beliau berkeliling pada istri-istrinya, hasil selanjutnya tidak ada yang melahirkan anak kecuali satu orang wanita yang melahirkan setengah manusia. Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam bersabda: Kalau Nabi Sulaiman mengucapkan Insya Allah, niscaya beliau tidak melanggar sumpahnya, dan lebih diharapkan hajatnya terpenuhi (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, lafadz hadits sesuai riwayat al-Bukhari).

Dalam hadits ini terkandung beberapa faidah penting bahwa ucapan InsyaAllah jika disebutkan dalam sumpah, kemudian ternyata tidak tercapai, maka orang itu tidak dianggap melanggar sumpah. Faidah berikutnya, ucapan InsyaAllah adalah memudahkan agar hajat terpenuhi.

Karena itu Allah berikan bimbingan adab kepada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam agar janganlah beliau mengucapkan: Aku akan melakukan ini besok. Dengan memastikan. Kecuali jika beliau mengucapkan InsyaAllah.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (23) إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (24)

Dan janganlah sekali-kali engkau mengucapkan : Sesungguhnya aku akan melakukan hal itu besok. Kecuali (dengan mengucapkan) InsyaAllah. Dan ingatlah Tuhanmu ketika engkau lupa. Dan Ucapkanlah: Semoga Tuhanku memberikan petunjuk pada jalan terdekat menuju hidayah (Q.S al-Kahfi ayat 23-24).

al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: Ini adalah petunjuk dari Allah kepada Rasul-Nya –semoga sholawat Allah dan keselamatan dari Allah kepada beliau- kepada adab. Yaitu jika beliau telah memiliki tekad untuk mengerjakan sesuatu di masa yang akan datang, hendaknya mengembalikan hal itu kepada Masyi-ah (Kehendak) Allah Azza Wa Jalla, Yang Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Yang Maha Mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang/akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi, bagaimana kalau terjadi (Tafsir Ibn Katsir)

Contoh Kedua: kejadian yang terjadi pada Nabi Ismail.

Saat beliau diberitahukan oleh ayahnya bahwa ayahnya mendapat wahyu melalui mimpi untuk menyembelih beliau, Nabi Ismail menyatakan:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan dapati aku InsyaAllah termasuk orang-orang yang sabar (Q.S as-Shooffaat 102)

Nabi Ismail pasrah kepada Allah dan menyatakan: InsyaAllah engkau akan dapati aku termasuk orang yang sabar. Akibatnya, Allah beri hasil akhir yang baik. Beliau tidak jadi menjadi obyek yang disembelih. Namun diganti dengan kambing.

Contoh Ketiga: kejadian yang terjadi pada Nabi Musa.

Saat bertemu Khidhr, Nabi Musa ingin mengambil ilmu darinya. Nabi Musa juga berjanji dengan mengucapkan InsyaAllah bahwa beliau akan berusaha sabar tidak akan bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Khidhr, namun qoddarollah hal itu tidak tercapai.

قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Nabi Musa berkata : Engkau akan mendapati aku insyaAllah sebagai orang yang sabar dan tidak akan bermaksiat terhadap perintahmu (Q.S al-Kahfi ayat 69)

Namun di akhir kisah, ternyata Nabi Musa tidak bisa bersabar hingga 3 kali. Kemudian Khidhr menyatakan:

ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

Demikianlah penjelasan dari hal-hal yang engkau tidak mampu bersikap sabar (Q.S al-Kahfi ayat 82)

Ini menunjukkan bahwa atas takdir Allah kadangkala meski seorang sudah berupaya dan sebelumnya mengucapkan InsyaAllah, tidak terjadi yang diharapkannya. Namun, ia harus yakin bahwa segala yang ditakdirkan Allah adalah baik untuknya.

Dari 3 kisah Nabi di atas, kita bisa mengambil faidah, bahwa hendaknya jika akan berjanji kita mengucapkan InsyaAllah dengan harapan Allah akan menolong kita mendapatkan yang diinginkan. Namun jika ada teman kita yang mengucapkan InsyaAllah dalam janjinya kemudian tidak terpenuhi, kita berhusnudzdzhon bahwa itu memang atas takdir Allah dan ia telah berusaha memenuhinya. Dan ucapan InsyaAllah tidak pantas untuk dijadikan tameng oleh seorang muslim guna bermalas-malasan atau sudah ada niatan untuk menyelisihinya. Baarakallaahu fiikum.

Di Tulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

Sumber: http://salafy.or.id

PROGRAM TAKHOSSUS TAHFIZHUL QUR’AN DIBUKA KEMBALI

Alhamdulillah, pada tahun Pelajaran 2015-2016 M / 1436-1437 H Ma’had Ibnu Taimiyyah membuka kembali program TAKHOSSUS TAHFIZHUL QUR’AN LINNISA bagi anda yang ingin menyelesaikan hafalan Al Qur’an. Program ini ditempuh selama jenjang 2 tahun dengan ketentuan sebagai berikut:

SYARAT PENDAFTARAN :
1. Muslimah, usia minimal 12 tahun/lulus ma’had/SD/MI/yang sederajat.
2. Mendapat ijin tertulis dari orang tua/wali.
3. Sehat jasmani dan rohani (surat keterangan dokter)
4. Menyerahkan foto copy akte/ kenal lahir & KK
5. Menyerahkan foto copy identitas diri, atau ijazah terakhir atau surat keterangan dari RT/ desa setempat.
6. Datang langsung dengan diantar mahramnya.
7. Melampirkan surat pengantar (rekomendasi) dari ustadz setempat.

WAKTU PENDAFTARAN

 Pendaftaran dimulai pada tanggal 15 April – 5 Juni 2015 pada jam kerja (08.00 – 13.00 WIB)

Informasi hubungi: 085291462011 / 082136178278

PENERIMAAN SANTRI BARU TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Ma’had Ibnu Taimiyyah membuka Penerimaan Santri Baru Tahun Pelajaran 2015 – 2016 M / 1436 – 1437 H pada beberapa program / jenjang berikut:

A. MARHALAH IBTIDA’IYYAH (SETINGKAT SD/MI)

Program ini untuk putra dan putri usia minimal 6 tahun. Diutamakan yang pernah belajar di TK.

SYARAT PENDAFTARAN :
1. Usia minimal 6 tahun dan mandiri (mampu mengurus diri)
2. Sehat jasmani dan rohani ( surat keterangan dokter)
3. Menyerahkan foto copy akte kelahiran / kenal lahir & KK
4. Mengisi formulir pendaftaran & data isian
5. Bagi santri pindahan diutamakan bisa baca tulis Arab (Al Qur’an), maksimal duduk di kelas III SD/MI
dan umur tidak lebih dari 9 tahun.
6. Lulus seleksi.

KURIKULUM :
Aqidah, Fiqih, Hadits, Do’a, Akhlaq, Tafsir, Imla’, Muhadatsah, Nahwu, Shorof, Khot, Al Qur’an, Tajwid, Siroh, Matematika, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Umum dll.

B. I’DAD MUTAWASSITHOH (PERSIAPAN SMP)

Program ini adalah kelas persiapan bagi lulusan SD/MI/ yang sederajat atau berumur 12 tahun untuk masuk ke Marhalah Mutawassithoh dan berlangsung selama 1 tahun.

SYARAT PENDAFTARAN :
1. Laki-laki berumur minimal 12 tahun
2. Sehat jasmani dan rohani (surat keterangan dokter)
3. Menyerahkan foto copy akte/ kenal lahir, KK & Ijazah SD/MI / yang sederajat
4. Mengisi formulir pendaftaran & data isian
5. Lancar membaca Al Qur’an dengan baik dan benar
6. Menguasai pengetahuan dasar Agama Islam dan Bahasa Arab
7. Melampirkan surat pengantar (rekomendasi) dari ustadz setempat.

KURIKULUM :
Aqidah, Hadits, Lughah ‘Arobiyyah, Al Qur’an dll.

C. MARHALAH TSANAWIYYAH (SETINGKAT SMA)

Program ini merupakan program lanjutan dari Marhalah Mutawassithoh dan diperuntukkan bagi lulusan Ponpes/MTs/yang sederajat yang lulus seleksi pada tes penerimaan.
Program ini berlangsung selama 3 tahun.

SYARAT PENDAFTARAN :
1. Laki-laki, usia minimal 15 tahun.
2. Mendapat ijin tertulis dari orang tua/wali.
3. Sehat jasmani dan rohani (surat keterangan dokter)
4. Menyerahkan foto copy akte/kenal lahir, KK & ijazah SMP/yang sederajat
5. Mengisi formulir pendaftaran & data isian
6. Memiliki bekal agama Islam dan Bahasa Arab.
7. Melampirkan surat pengantar (rekomendasi) dari ustadz setempat.
8. Lancar membaca Al Qur’an dengan baik dan benar dan memiliki hafalan Al Qur’an.
9. Lulus seleksi.

KURIKULUM :
Aqidah, Fikih,Ushul Fiqh, Hadits, Mustholahul hadits, Bahasa Arab (Nahwu, Shorof, Balaghoh, dll), Tafsir, Ushul Tafsir, Akhlaq, dll.

D. LEMBAGA PENGAJARAN BAHASA ARAB (LPBA)

Program ini khusus untuk putri dan berlangsung selama 3 tahun serta sebagai persiapan masuk Program Tarbiyyatun Nisa di Ma’had Ibnu Taimiyyah dengan konsentrasi penguasaan Bahasa Arab dan dasar-dasar ilmu agama.

SYARAT PENDAFTARAN :
1. Muslimah, usia minimal 13 tahun/lulus ma’had/SD/MI/yang sederajat.
2. Mendapat ijin tertulis dari orang tua/wali.
3. Sehat jasmani dan rohani (surat keterangan dokter)
4. Menyerahkan foto copy akte/ kenal lahir & KK
5. Menyerahkan foto copy identitas diri, atau ijazah terakhir atau surat keterangan dari RT/ desa setempat.
6. Datang langsung dengan diantar mahramnya.
7. Melampirkan surat pengantar (rekomendasi) dari ustadz setempat.

WAKTU PENDAFTARAN

 Pendaftaran dimulai pada tanggal 15 April – 5 Juni 2015 pada jam kerja (08.00 – 13.00 WIB)
 Teknis pendaftaran:
Datang langsung ke kantor Ma’had Ibnu Taimiyyah (Komplek Masjid Al Abror, Kebokura Rt 02 Rw 02, Sumpiuh, Banyumas atau sms ke nomor 085291462011 / 082136178278.
 Tes seleksi masuk untuk semua marhalah dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 Juni 2015, pukul 09.00 s.d selesai.
 Hasil tes seleksi diumumkan pada tanggal 6 Juni 2015 pada pukul 14.00 atau bisa di lihat di papan pengumuman Ponpes Ibnu Taimiyyah, atau di lihat di blog: http://www.ibnutaimiyyahponpes.wordpress.com
 Santri baru, daftar ulang dan masuk pada hari Ahad, 7 Juni 2015
 Santri baru mulai belajar pada hari Senin, 8 Juni 2015

BIAYA PENDIDIKAN

1. Biaya pendaftaran : Rp 40.000,00
2. Infak prasarana (per-SANTRI) : Rp 350.000,00
3. Uang gedung (per-wali SANTRI) : Rp 1.000.000,00
4. SPP (Syahriyah) : Rp 300.000,00 (untuk semua marhalah)
5. Uang buku/kiktab:
 LPBA/TN/Mutawassithoh/Tsanawi : Rp 200.000,00

Keterangan:
a. Bagi Santri yang diterima diberlakukan masa uji coba perkembangan kepribadian dan akhlak selama satu bulan pertama. Jika tidak memenuhi kriteria standar, maka akan dikembalikan kepada orang tua/wali.
b. Biaya pengadaan kitab ditanggung santri.
c. Biaya SPP & infak prasarana dibayar pada awal masuk, sedangkan uang gedung dapat diangsur maksimal 3 kali setelah setelah santri dinyatakan lulus masa uji coba.

Tempat terbatas, harap hadir sesuai jadwal. Keputusan panitia mohon dihormati.

Informasi hubungi: 085291462011 / 082136178278

Apakah Sah Wudhu Seorang Wanita yang Memakai Kuteks di Kuku?

Tanya:

Sahkah wudhu wanita yang di kukunya terdapat kuteks?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin rahimahullah menjawab:

“Kuteks yang dipakai oleh wanita di kukunya memiliki lapisan/sisa cet yang menempel, sehingga tidak boleh dipakai bila ia hendak shalat karena menghalangi sampainya air ke bagian jarinya dalam wudhu. Segala sesuatu yang mencegah sampainya air ke anggota wudhu tidak boleh dipakai oleh orang yang berwudhu atau oramg yang mandi wajib. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“… Maka cucilah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian.” [Al-Ma’idah: 6]

Kuteks yang dipakai oleh seorang wanita pada kukunya akan menghalangi air mengenai kuku/jarinya sehingga tidak bisa dikatakan ia telah mencuci tangannya. Dengan begitu ia telah meninggalkan satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban wudhu atau mandi.

Adapun wanita yang sedang tidak shalat karena haid, tidak mengapa memakai kuteks ini. Hanya saja memakai kuteks termasuk kekhususan wanita-wanita kafir. Karena alasan ini maka tidak boleh memakainya agar tidak jatuh dalam perbuatan tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir.

Aku pernah mendengar sebagian orang berfatwa bahwa memakai kuteks bisa dikiaskan dengan memakai khuf (sementara ada pensyariatan mengusap di atas khuf dan ada ketentuan waktunya), dengan begitu seorang wanita boleh memakainya sehari semalam ia sedang tidak safar/bepergian dan tiga hari tiga malam bila ia musafir. Namun ini fatwa yang salah. Karena tidak setiap yang menutupi tubuh seseorang disamakan dengan memakai khuf. Kalau khuf dibolehkan oleh syariat untuk mengusapnya karena umumnya ada kebutuhan. Kedua telapak kaki ini butuh dihangatkan dan butuh ditutup karena keduanya langsung bersentuhan dengan tanah, kerikil, rasa dingin, dan selainnya, maka syariat pun mengkhususkan pengusapan di atas keduanya.

Terkadang mereka juga mengkiaskannya dengan sorban dan ini pun tidak benar. Karena sorban itu tempatnya di kepala, sementara kepala dari asalnya memang diringankan. Kepala hanya wajib diusap dalam amalan wudhu, beda halnya dengan tangan, kedua tangan harus dicuci. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memperkenankan wanita mengusap kaos tangannya ketika wudhu, padahal kaos tangan tersebut menutupi tangannya. Ini menunjukkan tidak bolehnya seseorang mengkiaskan segala penghalang/penutup yang menghalangi sampainya air ke anggota wudhu dengan sorban dan khuf.

Yang wajib dilakukan oleh seorang muslim adalah mencurahkan segala kesungguhan dan upayanya untuk mengetahui al-haq serta janganlah berfatwa melainkan dalam keadaan ia menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak akan menanyakan kepadanya tentang fatwa tersebut (meminta pertanggungjawabannya), karena ia memberikan penggambaran tentang syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Azza wa Jalla-lah yang memberikan taufik, yang membimbing kepada ash-shirath al-mustaqim.” [Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatus Syaikh, 11/148-149]

Sumber: Majalah Asy Syariah no. 49/V/1430 H/2009, hal. 89-90 via abul-harits.blogspot.com

Apakah Rambut Bayi Perempuan Dicukur (Gundul) Saat Aqiqah?

Pada hari ketujuh dari kelahiran, disunahkan untuk menyembelih kambing aqiqah, memberikan nama, mencukur gundul rambutnya, serta bersedekah seharga perak seberat timbangan rambutnya. Apakah hal itu berlaku untuk bayi laki-laki dan perempuan atau khusus untuk bayi laki-laki?

Para ulama berselisih dalam permasalahan ini:

Pertama, mencukur rambut berlaku untuk bayi laki-laki dan perempuan. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan Syafi’iyyah, Malikiyyah dan sebagian Hanabilah. Diantara dalil yang digunakan pendapat ini:

(1) Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا كان يوم السابع للمولود فأهريقوا عنه دما وأميطوا عنه الأذى و سموه

“Apabila bayi yang dilahirkan memasuki hari ketujuh, maka curahkanlah darah (sembelihlah hewan aqiqah –pen), buanglah gangguan dan berilah ia nama” [HR. Ath-Thabrani, 2/526 dan dihasankan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaniy rahimahumallah[1]]

Lafazh [للمولود] “bayi yang dilahirkan” dalam nash hadits mencakup bayi laki-laki dan perempuan tanpa ada pengecualian.

(2) Al-Imam Abdurrazaq Ash-Shan’aniy rahimahullah berkata:

أنّ فاطمة بنت النبي صلى الله عليه وسلم »كانت لا يولد لها ولد إلاّ أمرت بحلق رأسه، وتصدقت بوزن شعره ورِقاً

“Tidaklah Fatimah binti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melahirkan anak kecuali Fatimah memerintahkan untuk mencukur rambutnya dan bersedekah perak seberat timbangan rambutnya” [Al-Mushannaf, 4/257]

Telah diketahui bahwa Fatimah melahirkan dua anak laki-laki dan dua anak perempuan yaitu Hasan, Husain, Ummu Kultsum dan Zainab.

(3) Dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya berkata:

وَزَنَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – شَعَرَ حَسَنٍ وَحُسَيْنٍ، وَزَيْنَبَ وَأُمِّ كُلْثُومٍ، فَتَصَدَّقَتْ بِزِنَةِ ذَلِكَ فِضَّةً

“Fatimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum, kemudian bersedekah seharga perak seberat timbangan rambutnya” [Al-Muwatha’, 2/501 dan As-Sunan Al-Kubra, 9/304]

(4) Makna [وأميطوا عنه الأذى] “menghilangkan gangguan” adalah mencukur rambut sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Al-Hakim

وَأَمَرَ أَنْ يُمَاط عَنْ رُءُوسهمَا الْأَذَى

“Rasulullah memerintahkan untuk membuang gangguan dari kepala keduanya (Hasan dan Husain)”

Illat perintah mencukur rambut bayi adalah untuk menghilangkan gangguan, dan illat tersebut juga ada pada bayi perempuan. Allahu a’lam

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَقَدْ جَزَمَ الْأَصْمَعِيُّ بِأَنَّهُ حَلْقُ الرَّأْسِ . وَأَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنْ الْحَسَنِ كَذَلِكَ

“Al-Ashma’iy telah memastikan bahwa makna menghilangkan gangguan adalah mencukur rambut. Demikian pula Abu Daud meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Al-Hasan” [Fathul Bari, 9/593]

Al-Imam Ibnu Sirin rahimahullah berkata:

إِنْ لَمْ يَكُنْ الْأَذَى حَلْقَ الرَّأْسِ فَلَا أَدْرِي مَا هُوَ

“Apabila (menghilangkan) gangguan bukan bermakna mencukur rambut, maka aku tidak tahu apa yang dimaksud dalam hadits tersebut” [Tuhfatul Ahwadzi,]

Pendapat ini dipilih oleh Al-Imam Ash-Shan’aniy[2] dan Asy-Syaikh Muhammad Ali Firkuuz rahimahumallah

Kedua, mencukur gundul rambut tidak berlaku bagi bayi perempuan, hanya dikhususkan untuk bayi laki-laki. Ini merupakan pendapat sebagian ulama Hanabilah.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

ولا تختلف الرواية في كراهة حلق المرأة رأسها من غير ضرورة

“Tidak ada perselisihan riwayat tentang makruhnya mencukur rambut perempuan tanpa ada kebutuhan darurat” [Al-Mughni, 1/104]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَحَكَى الْمَاوَرْدِيّ كَرَاهَة حَلْق رَأْس الْجَارِيَة ، وَعَنْ بَعْض الْحَنَابِلَة يُحْلَق

“Al-Mawardi menghikayatkan makruhnya mencukur rambut bayi perempuan, sedangkan sebagian Hanabilah berpendapat dicukur” [Fathul Bari]

Diantara dalil yang digunakan pendapat ini adalah sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

الغلام مرتهن بعقيقته يذبح عنه يوم السابع ، ويسمى ، ويحلق رأسه

“Bayi laki-laki tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) pada hari ketujuh, diberikan nama dan dicukur gundul rambutnya” [HR. At-Tirmidzi no. 1522 dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahumallah dalam Shahih At-Tirmidzi]

Seluruh riwayat yang ada hanya menyebutkan bayi laki-laki, tidak ada riwayat shahih yang menyebutkan bayi perempuan.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

لم يصح حديث في حلق شعر المولودة الأنثى

“Hadits tentang mencukur rambut bayi perempuan tidak shahih” [Al-Mughni, 1/104]

Pendapat ini dipilih oleh Asy-Syaikh Abdul Aziiz bin Baz[3] dan Asy-Syaikh Abdullah Al-Jibrin[4] rahimahumallah

Tarjih

Saya pribadi lebih condong pada pendapat pertama, karena dalil yang digunakan lebih shariih, Allahua’lam. Adapun penyebutan riwayat [الغلام] tidaklah khusus bermakna bayi laki-laki, karena pada asalnya tidak ada perbedaan hukum antara laki-laki dan perempuan dalam Islam, selain yang dikecualikan oleh dalil. Sedangkan saya belum menemukan riwayat yang membedakan antara bayi laki-laki dan perempuan.

Asy-Syaikh As-Sindiy rahimahullah berkata:

قوله كل غلام أريد به مطلق المولود ذكرًا كان أو أنثى

“Sabda Nabi [كل غلام] yang dimaksud adalah setiap bayi yang dilahirkan, baik laki-laki maupun perempuan” [Hasyiyah As-Sindiy ‘ala An-Nasa’iy]

Sisi kedua, anggaplah mencukur rambut memang khusus bagi bayi laki-laki. Apakah aqiqah juga khusus bagi bayi laki-laki?? Kenapa dibedakan antara keduanya, padahal mencukur rambut dan aqiqah disebutkan dalam nash hadits yang sama!!

Allahua’lam, semoga bermanfaat.

[1] Fathul Bari, 9/589

[2] Subulus Salam, 4/203

[3] Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 10/48

[4] Fatawa Ibnu Jibrin no. 2771

Sumber: http://abul-harits.blogspot.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.