PROGRAM TAKHOSSUS TAHFIZHUL QUR’AN DIBUKA KEMBALI

Alhamdulillah, pada tahun Pelajaran 2015-2016 M / 1436-1437 H Ma’had Ibnu Taimiyyah membuka kembali program TAKHOSSUS TAHFIZHUL QUR’AN LINNISA bagi anda yang ingin menyelesaikan hafalan Al Qur’an. Program ini ditempuh selama jenjang 2 tahun dengan ketentuan sebagai berikut:

SYARAT PENDAFTARAN :
1. Muslimah, usia minimal 12 tahun/lulus ma’had/SD/MI/yang sederajat.
2. Mendapat ijin tertulis dari orang tua/wali.
3. Sehat jasmani dan rohani (surat keterangan dokter)
4. Menyerahkan foto copy akte/ kenal lahir & KK
5. Menyerahkan foto copy identitas diri, atau ijazah terakhir atau surat keterangan dari RT/ desa setempat.
6. Datang langsung dengan diantar mahramnya.
7. Melampirkan surat pengantar (rekomendasi) dari ustadz setempat.

WAKTU PENDAFTARAN

 Pendaftaran dimulai pada tanggal 15 April – 5 Juni 2015 pada jam kerja (08.00 – 13.00 WIB)

Informasi hubungi: 085291462011 / 082136178278

PENERIMAAN SANTRI BARU TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Ma’had Ibnu Taimiyyah membuka Penerimaan Santri Baru Tahun Pelajaran 2015 – 2016 M / 1436 – 1437 H pada beberapa program / jenjang berikut:

A. MARHALAH IBTIDA’IYYAH (SETINGKAT SD/MI)

Program ini untuk putra dan putri usia minimal 6 tahun. Diutamakan yang pernah belajar di TK.

SYARAT PENDAFTARAN :
1. Usia minimal 6 tahun dan mandiri (mampu mengurus diri)
2. Sehat jasmani dan rohani ( surat keterangan dokter)
3. Menyerahkan foto copy akte kelahiran / kenal lahir & KK
4. Mengisi formulir pendaftaran & data isian
5. Bagi santri pindahan diutamakan bisa baca tulis Arab (Al Qur’an), maksimal duduk di kelas III SD/MI
dan umur tidak lebih dari 9 tahun.
6. Lulus seleksi.

KURIKULUM :
Aqidah, Fiqih, Hadits, Do’a, Akhlaq, Tafsir, Imla’, Muhadatsah, Nahwu, Shorof, Khot, Al Qur’an, Tajwid, Siroh, Matematika, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Umum dll.

B. I’DAD MUTAWASSITHOH (PERSIAPAN SMP)

Program ini adalah kelas persiapan bagi lulusan SD/MI/ yang sederajat atau berumur 12 tahun untuk masuk ke Marhalah Mutawassithoh dan berlangsung selama 1 tahun.

SYARAT PENDAFTARAN :
1. Laki-laki berumur minimal 12 tahun
2. Sehat jasmani dan rohani (surat keterangan dokter)
3. Menyerahkan foto copy akte/ kenal lahir, KK & Ijazah SD/MI / yang sederajat
4. Mengisi formulir pendaftaran & data isian
5. Lancar membaca Al Qur’an dengan baik dan benar
6. Menguasai pengetahuan dasar Agama Islam dan Bahasa Arab
7. Melampirkan surat pengantar (rekomendasi) dari ustadz setempat.

KURIKULUM :
Aqidah, Hadits, Lughah ‘Arobiyyah, Al Qur’an dll.

C. MARHALAH TSANAWIYYAH (SETINGKAT SMA)

Program ini merupakan program lanjutan dari Marhalah Mutawassithoh dan diperuntukkan bagi lulusan Ponpes/MTs/yang sederajat yang lulus seleksi pada tes penerimaan.
Program ini berlangsung selama 3 tahun.

SYARAT PENDAFTARAN :
1. Laki-laki, usia minimal 15 tahun.
2. Mendapat ijin tertulis dari orang tua/wali.
3. Sehat jasmani dan rohani (surat keterangan dokter)
4. Menyerahkan foto copy akte/kenal lahir, KK & ijazah SMP/yang sederajat
5. Mengisi formulir pendaftaran & data isian
6. Memiliki bekal agama Islam dan Bahasa Arab.
7. Melampirkan surat pengantar (rekomendasi) dari ustadz setempat.
8. Lancar membaca Al Qur’an dengan baik dan benar dan memiliki hafalan Al Qur’an.
9. Lulus seleksi.

KURIKULUM :
Aqidah, Fikih,Ushul Fiqh, Hadits, Mustholahul hadits, Bahasa Arab (Nahwu, Shorof, Balaghoh, dll), Tafsir, Ushul Tafsir, Akhlaq, dll.

D. LEMBAGA PENGAJARAN BAHASA ARAB (LPBA)

Program ini khusus untuk putri dan berlangsung selama 3 tahun serta sebagai persiapan masuk Program Tarbiyyatun Nisa di Ma’had Ibnu Taimiyyah dengan konsentrasi penguasaan Bahasa Arab dan dasar-dasar ilmu agama.

SYARAT PENDAFTARAN :
1. Muslimah, usia minimal 13 tahun/lulus ma’had/SD/MI/yang sederajat.
2. Mendapat ijin tertulis dari orang tua/wali.
3. Sehat jasmani dan rohani (surat keterangan dokter)
4. Menyerahkan foto copy akte/ kenal lahir & KK
5. Menyerahkan foto copy identitas diri, atau ijazah terakhir atau surat keterangan dari RT/ desa setempat.
6. Datang langsung dengan diantar mahramnya.
7. Melampirkan surat pengantar (rekomendasi) dari ustadz setempat.

WAKTU PENDAFTARAN

 Pendaftaran dimulai pada tanggal 15 April – 5 Juni 2015 pada jam kerja (08.00 – 13.00 WIB)
 Teknis pendaftaran:
Datang langsung ke kantor Ma’had Ibnu Taimiyyah (Komplek Masjid Al Abror, Kebokura Rt 02 Rw 02, Sumpiuh, Banyumas atau sms ke nomor 085291462011 / 082136178278.
 Tes seleksi masuk untuk semua marhalah dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 Juni 2015, pukul 09.00 s.d selesai.
 Hasil tes seleksi diumumkan pada tanggal 6 Juni 2015 pada pukul 14.00 atau bisa di lihat di papan pengumuman Ponpes Ibnu Taimiyyah, atau di lihat di blog: http://www.ibnutaimiyyahponpes.wordpress.com
 Santri baru, daftar ulang dan masuk pada hari Ahad, 7 Juni 2015
 Santri baru mulai belajar pada hari Senin, 8 Juni 2015

BIAYA PENDIDIKAN

1. Biaya pendaftaran : Rp 40.000,00
2. Infak prasarana (per-SANTRI) : Rp 350.000,00
3. Uang gedung (per-wali SANTRI) : Rp 1.000.000,00
4. SPP (Syahriyah) : Rp 300.000,00 (untuk semua marhalah)
5. Uang buku/kiktab:
 LPBA/TN/Mutawassithoh/Tsanawi : Rp 200.000,00

Keterangan:
a. Bagi Santri yang diterima diberlakukan masa uji coba perkembangan kepribadian dan akhlak selama satu bulan pertama. Jika tidak memenuhi kriteria standar, maka akan dikembalikan kepada orang tua/wali.
b. Biaya pengadaan kitab ditanggung santri.
c. Biaya SPP & infak prasarana dibayar pada awal masuk, sedangkan uang gedung dapat diangsur maksimal 3 kali setelah setelah santri dinyatakan lulus masa uji coba.

Tempat terbatas, harap hadir sesuai jadwal. Keputusan panitia mohon dihormati.

Informasi hubungi: 085291462011 / 082136178278

Apakah Sah Wudhu Seorang Wanita yang Memakai Kuteks di Kuku?

Tanya:

Sahkah wudhu wanita yang di kukunya terdapat kuteks?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin rahimahullah menjawab:

“Kuteks yang dipakai oleh wanita di kukunya memiliki lapisan/sisa cet yang menempel, sehingga tidak boleh dipakai bila ia hendak shalat karena menghalangi sampainya air ke bagian jarinya dalam wudhu. Segala sesuatu yang mencegah sampainya air ke anggota wudhu tidak boleh dipakai oleh orang yang berwudhu atau oramg yang mandi wajib. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“… Maka cucilah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian.” [Al-Ma’idah: 6]

Kuteks yang dipakai oleh seorang wanita pada kukunya akan menghalangi air mengenai kuku/jarinya sehingga tidak bisa dikatakan ia telah mencuci tangannya. Dengan begitu ia telah meninggalkan satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban wudhu atau mandi.

Adapun wanita yang sedang tidak shalat karena haid, tidak mengapa memakai kuteks ini. Hanya saja memakai kuteks termasuk kekhususan wanita-wanita kafir. Karena alasan ini maka tidak boleh memakainya agar tidak jatuh dalam perbuatan tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir.

Aku pernah mendengar sebagian orang berfatwa bahwa memakai kuteks bisa dikiaskan dengan memakai khuf (sementara ada pensyariatan mengusap di atas khuf dan ada ketentuan waktunya), dengan begitu seorang wanita boleh memakainya sehari semalam ia sedang tidak safar/bepergian dan tiga hari tiga malam bila ia musafir. Namun ini fatwa yang salah. Karena tidak setiap yang menutupi tubuh seseorang disamakan dengan memakai khuf. Kalau khuf dibolehkan oleh syariat untuk mengusapnya karena umumnya ada kebutuhan. Kedua telapak kaki ini butuh dihangatkan dan butuh ditutup karena keduanya langsung bersentuhan dengan tanah, kerikil, rasa dingin, dan selainnya, maka syariat pun mengkhususkan pengusapan di atas keduanya.

Terkadang mereka juga mengkiaskannya dengan sorban dan ini pun tidak benar. Karena sorban itu tempatnya di kepala, sementara kepala dari asalnya memang diringankan. Kepala hanya wajib diusap dalam amalan wudhu, beda halnya dengan tangan, kedua tangan harus dicuci. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memperkenankan wanita mengusap kaos tangannya ketika wudhu, padahal kaos tangan tersebut menutupi tangannya. Ini menunjukkan tidak bolehnya seseorang mengkiaskan segala penghalang/penutup yang menghalangi sampainya air ke anggota wudhu dengan sorban dan khuf.

Yang wajib dilakukan oleh seorang muslim adalah mencurahkan segala kesungguhan dan upayanya untuk mengetahui al-haq serta janganlah berfatwa melainkan dalam keadaan ia menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak akan menanyakan kepadanya tentang fatwa tersebut (meminta pertanggungjawabannya), karena ia memberikan penggambaran tentang syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Azza wa Jalla-lah yang memberikan taufik, yang membimbing kepada ash-shirath al-mustaqim.” [Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatus Syaikh, 11/148-149]

Sumber: Majalah Asy Syariah no. 49/V/1430 H/2009, hal. 89-90 via abul-harits.blogspot.com

Apakah Rambut Bayi Perempuan Dicukur (Gundul) Saat Aqiqah?

Pada hari ketujuh dari kelahiran, disunahkan untuk menyembelih kambing aqiqah, memberikan nama, mencukur gundul rambutnya, serta bersedekah seharga perak seberat timbangan rambutnya. Apakah hal itu berlaku untuk bayi laki-laki dan perempuan atau khusus untuk bayi laki-laki?

Para ulama berselisih dalam permasalahan ini:

Pertama, mencukur rambut berlaku untuk bayi laki-laki dan perempuan. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan Syafi’iyyah, Malikiyyah dan sebagian Hanabilah. Diantara dalil yang digunakan pendapat ini:

(1) Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا كان يوم السابع للمولود فأهريقوا عنه دما وأميطوا عنه الأذى و سموه

“Apabila bayi yang dilahirkan memasuki hari ketujuh, maka curahkanlah darah (sembelihlah hewan aqiqah –pen), buanglah gangguan dan berilah ia nama” [HR. Ath-Thabrani, 2/526 dan dihasankan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaniy rahimahumallah[1]]

Lafazh [للمولود] “bayi yang dilahirkan” dalam nash hadits mencakup bayi laki-laki dan perempuan tanpa ada pengecualian.

(2) Al-Imam Abdurrazaq Ash-Shan’aniy rahimahullah berkata:

أنّ فاطمة بنت النبي صلى الله عليه وسلم »كانت لا يولد لها ولد إلاّ أمرت بحلق رأسه، وتصدقت بوزن شعره ورِقاً

“Tidaklah Fatimah binti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melahirkan anak kecuali Fatimah memerintahkan untuk mencukur rambutnya dan bersedekah perak seberat timbangan rambutnya” [Al-Mushannaf, 4/257]

Telah diketahui bahwa Fatimah melahirkan dua anak laki-laki dan dua anak perempuan yaitu Hasan, Husain, Ummu Kultsum dan Zainab.

(3) Dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya berkata:

وَزَنَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – شَعَرَ حَسَنٍ وَحُسَيْنٍ، وَزَيْنَبَ وَأُمِّ كُلْثُومٍ، فَتَصَدَّقَتْ بِزِنَةِ ذَلِكَ فِضَّةً

“Fatimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum, kemudian bersedekah seharga perak seberat timbangan rambutnya” [Al-Muwatha’, 2/501 dan As-Sunan Al-Kubra, 9/304]

(4) Makna [وأميطوا عنه الأذى] “menghilangkan gangguan” adalah mencukur rambut sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Al-Hakim

وَأَمَرَ أَنْ يُمَاط عَنْ رُءُوسهمَا الْأَذَى

“Rasulullah memerintahkan untuk membuang gangguan dari kepala keduanya (Hasan dan Husain)”

Illat perintah mencukur rambut bayi adalah untuk menghilangkan gangguan, dan illat tersebut juga ada pada bayi perempuan. Allahu a’lam

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَقَدْ جَزَمَ الْأَصْمَعِيُّ بِأَنَّهُ حَلْقُ الرَّأْسِ . وَأَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنْ الْحَسَنِ كَذَلِكَ

“Al-Ashma’iy telah memastikan bahwa makna menghilangkan gangguan adalah mencukur rambut. Demikian pula Abu Daud meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Al-Hasan” [Fathul Bari, 9/593]

Al-Imam Ibnu Sirin rahimahullah berkata:

إِنْ لَمْ يَكُنْ الْأَذَى حَلْقَ الرَّأْسِ فَلَا أَدْرِي مَا هُوَ

“Apabila (menghilangkan) gangguan bukan bermakna mencukur rambut, maka aku tidak tahu apa yang dimaksud dalam hadits tersebut” [Tuhfatul Ahwadzi,]

Pendapat ini dipilih oleh Al-Imam Ash-Shan’aniy[2] dan Asy-Syaikh Muhammad Ali Firkuuz rahimahumallah

Kedua, mencukur gundul rambut tidak berlaku bagi bayi perempuan, hanya dikhususkan untuk bayi laki-laki. Ini merupakan pendapat sebagian ulama Hanabilah.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

ولا تختلف الرواية في كراهة حلق المرأة رأسها من غير ضرورة

“Tidak ada perselisihan riwayat tentang makruhnya mencukur rambut perempuan tanpa ada kebutuhan darurat” [Al-Mughni, 1/104]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَحَكَى الْمَاوَرْدِيّ كَرَاهَة حَلْق رَأْس الْجَارِيَة ، وَعَنْ بَعْض الْحَنَابِلَة يُحْلَق

“Al-Mawardi menghikayatkan makruhnya mencukur rambut bayi perempuan, sedangkan sebagian Hanabilah berpendapat dicukur” [Fathul Bari]

Diantara dalil yang digunakan pendapat ini adalah sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

الغلام مرتهن بعقيقته يذبح عنه يوم السابع ، ويسمى ، ويحلق رأسه

“Bayi laki-laki tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) pada hari ketujuh, diberikan nama dan dicukur gundul rambutnya” [HR. At-Tirmidzi no. 1522 dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahumallah dalam Shahih At-Tirmidzi]

Seluruh riwayat yang ada hanya menyebutkan bayi laki-laki, tidak ada riwayat shahih yang menyebutkan bayi perempuan.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

لم يصح حديث في حلق شعر المولودة الأنثى

“Hadits tentang mencukur rambut bayi perempuan tidak shahih” [Al-Mughni, 1/104]

Pendapat ini dipilih oleh Asy-Syaikh Abdul Aziiz bin Baz[3] dan Asy-Syaikh Abdullah Al-Jibrin[4] rahimahumallah

Tarjih

Saya pribadi lebih condong pada pendapat pertama, karena dalil yang digunakan lebih shariih, Allahua’lam. Adapun penyebutan riwayat [الغلام] tidaklah khusus bermakna bayi laki-laki, karena pada asalnya tidak ada perbedaan hukum antara laki-laki dan perempuan dalam Islam, selain yang dikecualikan oleh dalil. Sedangkan saya belum menemukan riwayat yang membedakan antara bayi laki-laki dan perempuan.

Asy-Syaikh As-Sindiy rahimahullah berkata:

قوله كل غلام أريد به مطلق المولود ذكرًا كان أو أنثى

“Sabda Nabi [كل غلام] yang dimaksud adalah setiap bayi yang dilahirkan, baik laki-laki maupun perempuan” [Hasyiyah As-Sindiy ‘ala An-Nasa’iy]

Sisi kedua, anggaplah mencukur rambut memang khusus bagi bayi laki-laki. Apakah aqiqah juga khusus bagi bayi laki-laki?? Kenapa dibedakan antara keduanya, padahal mencukur rambut dan aqiqah disebutkan dalam nash hadits yang sama!!

Allahua’lam, semoga bermanfaat.

[1] Fathul Bari, 9/589

[2] Subulus Salam, 4/203

[3] Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 10/48

[4] Fatawa Ibnu Jibrin no. 2771

Sumber: http://abul-harits.blogspot.com

Pemberitahuan

Kepada
Ykh. Orang Tua / Wali Santri
Ponpes Ibnu Taimiyyah Sumpiuh
Di Tempat

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبيينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:

Bersama ini kami beritahukan bahwa karena beberapa hal, maka jadwal KALDIK Semestar II Tahun Pelajaran 2014 / 2015 diadakan perubahan sebagai berikut:
1. Tes Semester II Tahun Pelajaran 2014 / 2015 dilaksanakan pada tanggal 18 – 25 Mei 2015
2. Kegiatan remidial tanggal 26 – 27 Mei 2015
3. Pembagian raport sekaligus penjemputan tanggal 28 Mei 2015 pada pukul 09.00 – selesai
4. Libur semester II tanggal 29 Mei – 6 Juni 2015
5. Pengantaran tanggal 6 Juni 2015
6. Masuk awal tahun Pelajaran Baru 2015 / 2016 tanggal 7 Juni 2015

Sehubungan dengan hal tersebut, maka:
1. Kepada segenap santri Ponpes Ibnu Taimiyyah supaya tetap meluruskan niatnya agar senantiasa ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala dan agar bersemangat dalam menuntut ilmu dan memuroja’ah ilmu yang telah diperolehnya.
2. Hendaknya orang tua / wali memberikan bimbingan dan motivasi kepada putra / putrinya untuk tetap bersemangat dalam belajar dan memuroja’ah pelajaran-pelajaran yang telah didapat.
3. Hendaknya orang tua / wali santri menjemput putra / putrinya sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan oleh Ponpes Ibnu Taimiyyah.

Demikian pemberitahuan dari kami, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih dan jaazakumullahu khairan.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sumpiuh, 25 Jumadil Akhir 1436 H
14 A p r i l 2015 M

Pimpinan Ponpes Ibnu Taimiyyah

Ttd
Al Ustadz Zainul Mustofa Adnan

Apa Sebab Bertambahnya Keimanan?

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata:

✔Ada beberapa sebab bertambahnya keimanan:

1. Mengenal Allah Ta’ala dengan mengetahui nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah Ta’ala.

Karena seseorang semakin bertambah pengetahuannya kepada Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya tidak diragukan lagi akan semakin bertambah pula keimanannya. Oleh karena itu engkau mendapati ahlul ilmi yang memiliki ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tidak diketahui oleh selain mereka, memiliki keimanan yang lebih kuat dibandingkan orang lain dari sisi ini.

2. Melihat kepada ayat-ayat kauniyyah dan syar’iyyah.

✒ Karena seseorang setiap ia melihat kepada ayat-ayat kauniyah yaitu makhluk-makhluk ciptaan-Nya semakin bertambah keimannanya. Allah Ta’ala (berfirman),

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. (QS. Adz-Dzariyat:20).

وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Adz-Dzariyat:21).

Dan ayat-ayat yang menunjukkan akan hal ini sangatlah banyak yaitu ayat-ayat yang menunjukkan bahwa ketika seseorang mentadabburi dan memperhatikan alam semesta ini semakin bertambah keimanannya.

3. Banyak melakukan amalan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Karena seseorang ketika memperbanyak amalan ketaatan semakin bertambah keimanannya, baik amalan ketaatan tersebut berupa ucapan atau perbuatan. Berdzikir akan menambah keimanan baik kuantitas maupun kualitas, mengerjakan shalat, berpuasa, berhaji, juga menambah keimanan baik kuantitas maupun kualitas.

Adapun sebab-sebab berkurangnya keimanan adalah kebalikannya, diantaranya:

1. Tidak mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah akan mengurangi keimanan.

Karena seorang insan apabila kurang mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah akan berkurang keimanannya.

2. Berpaling dari merenungi ayat-ayat Allah kauniyyah maupun syar’iyyah.

Karena hal ini merupakan sebab berkurangnya iman,  atau minimalnya iman akan tetap dan tidak bertambah.

3. Melakukan perbuatan maksiat.

Karena perbuatan maksiat memiliki dampak yang besar dalam hati terhadap keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada, Tidaklah seorang pezina berbuat zina dalam keadaan ia beriman (yaitu iman yang sempurna/tinggi, pent.)” al hadits.

4.Meninggalkan amalan ketaatan.

✂Karena meninggalkan amalan ketaatan merupakan sebab berkurangnya keimanan. Akan tetapi apabila amalan tersebut hukumnya wajib, ini merupakan iman yang kurang, ia dicela karenanya dan mendapatkan hukuman. Dan apabila amalan tersebut hukumnya tidak wajib, ataupun hukumnya wajib akan tetapi ia meninggalkannya karena udzur, ini akan mengurangi imannya, ia tidak dicela karenanya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan para wanita sebagai orang yang kurang akal dan agamanya, karena kekurangan pada agamanya disebabkan apabila ketika dia haidh, dia tidak shalat dan tidak berpuasa. Bersamaan dengan ini ia tidak dicela ketika meninggalkan shalat dan puasa dalam keadaan haidhnya, bahkan ia diperintahkan untuk meninggalkannya. Maka ketika ia tidak dapat mengerjakan amalan yang dikerjakan para lelaki menjadikannya kurang agamanya dari sisi ini.

Wallahu a’lam bish shawab

Sumber: Majmu’ Fatawa wa Rasa-il Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 1/51-52

Alih bahasa: Al Ustadz Abdulaziz Bantul hafizhahullah

 

Diambil dari: http://salafy.or.id

Baca lebih lanjut

UNDANGAN

Kepada
Ykh. Orang Tua / Wali Santri
Ma’had Ibnu Taimiyyah Sumpiuh
Di Tempat

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليما كثيرا، أما بعد:
Mengharap kehadiran orang tua / wali santri Ma’had Ibnu Taimiyyah Sumpiuh pada acara pertemuan wali santri sekaligus pengantaran santri yang insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari / Tanggal : Sabtu, 10 Jumadal Ula 1436 H / 28 Februari 2015 M
Waktu : Pukul 09.00 – selesai
Tempat : Masjid Al Abror, Komplek Ma’had Ibnu Taimiyyah Sumpiuh
Besar harapan kami akan kehadiran orang tua / wali santri dalam acara tersebut.
Demikian dari kami, semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa membimbing dan mengokohkan kita di atas manhaj yang benar sesuai dengan pemahaman As-Salaf Ash-Shalih.

والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Sumpiuh, 5 Jumadal Ula 1436 H / 23 Februari 2015 M

Pimpinan Ma’had

TTD
Al Ustadz Zaenul Mustofa

NB: Untuk lebih jelasnya silahkan hubungi nomor-nomor berikut: 081578455451 / 085113415162 / 08562645185 / 085385746476 / 085726234201

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.